Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Nilna 5:55 pm on November 27, 2011 Permalink | Reply  

    Uang sekolah..oh..uang sekolah 

    Dear diary,

    Rabu, minggu lalu, terlintas di benak saya, saya udah bayar uang sekolah belum ya? Maklum, beasiswa saya berbeda dengan kebanyakan beasiswa yang didapat teman-teman Indonesia di Jepang, kebanyakan mereka tidak perlu khawatir dengan persoalan bayar membayar ini, mereka tinggal terima beres saja. Nah kalau saya, uang sekolah selama dua tahun sudah ditransfer ke rekening saya, dan saya harus membayarkannya ke pihak sekolah. Ini gara-gara, pihak sekolah tidak mau repot-repot ngurus transfer mentransfer dari luar negeri.

    Biasanya, setiap awal semester, saya selalu dapat “surat cinta” dari pihak sekolah, buat membayar uang sekolah yang harganya diluar akal sehat. 267,900 yen per semester. Kalau sudah dapat “surat cinta” tersebut, saya langsung memindahkan uang yang diberikan si pemberi beasiswa dari rekening JP post saya ke rekening Fukui Bank saya. Sengaja saya pisahkan, biar ga kepake sama uang sehari-hari. Sebab pihak sekolah (lagi-lagi) ga mau repot harus menerima uang cash segepok di awal tahun. Kan padahal enak tuh kalo udah diserahkan semua, saya ga perlu was-was lagi kalau uangnya tiba-tiba raib sebelum dibayar, tapi yah mau gimana, peraturannya tiap semester harus dibayar, ga boleh langsung lunas dua tahun gituh.

    Yaudah, akhirnya saya keep aja itu uang, sampai si “surat cinta” mangkal di kotak pos saya.

    Tapi…

    Semesmer musim gugur ini, si “surat cinta” tak kunjung datang, hingga penghujung November ini. Awalnya sih saya ga gitu mikirin, ah, mungkin ntar juga datang. Tapi, ditunggu eh ditunggu, ga datang-datang juga. Mulailah saya berpikir, gimana inih, kalau tiba-tiba ntar saya udah sidang master, trus tiba-tiba mbak-mbak dari pihak keuangan datang bilang saya belum bayar kan barabe. Akhirnya saya memutuskan untuk nanya aja deh ke pihak sekolah.

    Jumat itu, ada international cafe di kampus, kebetulan saya ketemu dengan Kihara-san, salah satu staff international student di Fukui Daigaku. Akhirnya saya tanya ke dia, berhubung dia fasih bahasa Inggris, dan malah lebih jago dari saya, langsung aja deh saya nyerocos. Dan dia menyarankan saya liat di papan pengumuman kampus, apakah ada NIM saya di daftar mahasiswa yang belum bayar uang sekolah.

    Akhirnya saya langsung ke tempat si papan berdiri. Ada dong NIM saya! Tapi saya ga ngerti itu pengumaman apaan, secara itu tulisannya kanji semua. Saya keluarkanlah si Tomo, kamus saya dan saya cari arti kanjinya. Eng ing eng, artinya eh artinya, itu emang pengumuman buat mereka yang belum bayar. Wakwaaaaaaaaaw!!!!

    Saya langsung ke ATM, menarik uang 10.000 yen sebanyak 27 lembar dan lari ke bagian keuangan. Ketemu si mbak-mbak yang biasanya ngelayani perduitan dan dia bilang kalo mereka ga terima cash. Jadi itu uang kudu dimasukin ke rekening Fukui Bank dan mudah-mudahan bisa langsung ditarik sama pihak sekolah sekarang, sebab sekarang hari terakhir pembayaran. Yuk mareeeee~

    Saya berlari lagi ke ATM, dan baru aja inget, saya ga bawa buku rekening. Uuuh…, ini bisa ga ya masukin uang di ATM pake kartu ATM aja. Setau saya kalo Fukui Bank ga bisa, harus pakai buku rekening. Ah, tapi dicoba dulu aja deh.

    Saya ke ATM, tekan pilihan masukin duit. Tuh kaaan, dia minta buku tabungan….uhuhuhuhuhu…

    eh, eh, tapi tunggu dulu…

    ada penjelasannya, kalo ga bawa buku tabungan, bisa pakai kartu ATM. Horeeee!!! Alhamdulillaaaaah~

    Akhirnya saya langsung masukin tuh duit. Tanpa pikir panjang. Tapi karena ga ada buku tabungan, jadi kan ga tau tuh duitnya udah masuk apa enggak. Akhirnya saya coba deh ambil 1000 yen, buat ngecek, saldo akhirnya berapa.

    Saya masukin lagi kartu ATM, dan pas selesai ngambil 1000 yen, uang di saldo akhir saya tinggal 45.000 yen.

    Cho…chotto matte!!!!! Tadi kan saya masukin 270.000 yen. Heeeeeeeeeeeee~ kemana itu duit? Jangan-jangan ga masuk. Waduuuh, barabe itu duit banyak, dapatinnya setengah idup. Gaswat binti barabe nih!

    Akhirnya, mau ga mau, saya mengayuh sepeda di tengah ujan gerimis yang romantis *halah!* balik ke apato. Sesampainya di apato, segera saya sambar buku rekening saya dan pergi ke bank terdekat, buat ngeprint saldonya.

    Priiint…printtt.priiiiint begitu kira-kira bunyi printernya ngeprint saldo di buku tabungan saya. Dan pas keluar, mata saya langsung melotot memastikan uang 270.000 yen itu udah masuk.

    Alhamdulillah sudah masuk ternyata, dan alhamdulillah 267.900 yen udah berpindah ke rekening Fukui Daigaku. Which means, saya udah bayar uang kuliah. Fiiiuhhh… cepetnyooo, baru masukin aja, lima detik kemudian udah ditarik. Mungkin udah dari sebulan yang lalu, pihak Fukui Daigaku nunggu itu duit mampir ke rekening saya, gara-gara “surat cinta” ga datang, jadi aja tu duit betah di rekening JP post saya, ya pantesaaan ga kebayar-kebayar atuh neng uang kuliahnya.

    But now, case closed! Alhamdulillah uang sekolah udah terbayar. Alhamdulillah masih dimudahkan oleh Allah SWT untuk membayar uang kuliah. Melihat duit sebanyak itu dibayarkan, semangat saya untuk meneruskan perjuangan disini semakin membara. Yoshaaaa!!!! Ganbarouuu!!!!!!

    Cheers!

    Nilna Amelia

     
  • Nilna 3:25 pm on November 10, 2011 Permalink | Reply  

    Hari Pahlawan, mengenang Datuk dan Opa 

    Dear diary,

    Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus saya membuka mivo tv dan dengan random menyetel tv one. Ternyata lagi membahas mengenai Museum Brawijaya dan rumah kediaman Jendral Soedirman. Dan saya baru sadar, sekarang tanggal 10 November, berarti sekarang hari pahlawan!

    Mengingat hari pahlawan, saya pasti ingat kedua almarhum kakek saya. Semoga Allah memberikan mereka berdua tempat yang layak di sisiNya. Ayah dari ibu saya, biasa saya panggil Datuk. Bukan Datuk Maringgih ya! Datuk itu panggilan kakek buat orang Minangkabau.

    Datuk dulu ikut perang, ikut bergerilya bersama ratusan pahlawan lainnya. Ibu saya pernah cerita, datuk pernah dikejar-kejar oleh pasukan Belanda di pedalaman Sumatera. Datuk merupakan pasukan Indonesia yang berperang di melawan Belanda di kawasan Sumatera Selatan hingga Bengkulu.

    Almarhum Datuk, seorang pria yang taat kepada agama. Kenangan yang paling saya ingat adalah sholat subuh dan maghrib berjamaah setiap hari di Palembang. Lalu kami cucu-cucunya akan mendapat giliran membaca doa. Doa yang terus menempel di hati kami hingga saat ini.

    Kenangan lainnya, saya pernah ikut datuk mengambil uang pensiun saat saya masih SD, berarti tahun 90-an. Uang pensiun itu tidak lebih dari Rp. 10.000. Tapi Datuk tidak mengeluh, sembari pulang dengan naik becak, ia menceritakan pengalamannya dan memberikan saya selembar Rp. 1000. Saya senang luar biasa.

    Datuk menutup usianya pada tahun 2002. Saat itu saya di bangku SMA. Datuk dimakamkan secara militer di Makam Pahlawan di Palembang. Rumah terakhirnya bersebelahan dengan rumah terakhir para sahabat-sahabatnya yang dulu berjuang bersama, demi satu kata MERDEKA. Kami para cucu-cucunya ikut mengantarkan kepergiannya ke alam keabadian.

    Kalau dari ayah saya, Almarhum Opa. Lain ceritanya dengan Datuk. Opa berjuang dengan cara yang lain. Ia belajar dari Belanda dan ikut membangun pabrik penyulingan minyak di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya ialah Pabrik Pertamina di Dumai.

    Opa jago berbahasa belanda, orangnya juga apik. Apiknya ini menurun ke ayah saya, tapi sepertinya tidak menurun ke saya. Huhuhuhuuu… Disiplin teramat sangat, mungkin karena didikan Belanda.

    Hal yang paring menyenangkan ialah makan roti isi palmsuiker bersama Opa. Ini kenangan yang paling saya ingat, Opa mengajarkan saya dan abang saya bagaimana menghabiskan roti dua tangkup isi palmsuiker dalam dua kali gigitan.

    Opa berpulang ke Rahmatullah saat saya duduk di bangku SMP kelas dua. Saya tidak ikut pemakaman beliau karena waktu itu saya sedang ujain kenaikan kelas. Opa dimakamkan di pemakaman keluarga di daerah Cikaret.

    Datuk dan Opa, dua pria terbaik yang mengajarkan kami para anak cucunya, makna kemerdekaan, makna hidup, dan makna bersyukur. Meskipun mereka telah pergi mendahului kami, tapi kenangan itu akan tetap hidup di hati kami. Semoga segala kebaikan yang mereka lakukan, menjadi teman setia kehidupan mereka disana, dan semoga kami bisa berkumpul kembali, di dalam surga Allah SWT yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Amiien Ya Rabbalalamin.

    Dedicated to: Datuk Anwar Sjarief dan Opa Soeeb Sa’ad

    Selamat Hari Pahlawan!!

    “Grandpa? Are you a hero?”
    “No, but I served in a company of heroes.”
    -Band of Brothers-

    Cheers!
    Nilna Amelia

     
  • Nilna 9:16 am on November 10, 2011 Permalink | Reply  

    Next destination in Japan (1) 

    Dear diary,

    Setelah berbrowsing-browsing ria semalam dan pagi hari, saya menemukan beberapa tempat menarik di Jepang yang saya ingin kunjungi, yaituuuuu….

    1. Gujo Hachiman/ Gujo Village

    Desa yang terletak di daerah pegunungan Gifu yang memiliki berbagai tourist spot yang sepertinya menarik, dimulai dari alam pegunungan, kastil, serta beberapa peninggalan Jepang zaman dahulu. Tapi satu hal yang paling membuat saya tertarik kesana adalah kerajinan makanan palsu!

    etalase cake shop di Kyoto, semua cakenya dari plastik

    Di Indonesia mungkin sudah banyak restoran-restoran ( biasanya sih restoran Jepang) yang menampilkan bentuk makanan yang dihidangkan di depan restorannya. Makanan tersebut bukan makanan asli, tapi terbuat dari plastik. Nah, desa Gujo ini merupakan desa cikal bakal makanan plastik itu. Di Jepang sendiri hampir semua toko ada fake food ini sebagai teaser untuk para pengunjung. Fake food ini mirip sekali dengan aslinya, sampai bisa-bisa bikin ngiler…huehehee… Saya jadi penasaran bagaimana cara membuatnya yaaa? Sekaligus pengen mencoba membuatnya, karena kalau kita berkunjung ke tempat pembuatannya, ada workshop membuat kol dan tempura palsu. Huehehe…

    website:  http://www.gujohachiman.com/kanko/index_e.htm

    2. Ninja Museum

    Terletak di Mie-ken, prefektur di sebalah Nara dan Osaka. Saya tertarik setelah membaca naked traveller dan mengunjungi situs mereka di http://iganinja.jp/en/. Disana kita bisa melihat berbagai macam peralatan ninja serta outfit mereka. Lalu akan ada peragaan tentang beberapa teknik dunia per-ninja-an, serta mencoba melempar shuriken (alat lempar ninja yang berbentuk bintang), dan yang menarik, mencoba outfit mereka….hehehehee…

    Mudah-mudahan sebelum saya pulang ke Indonesia, saya bisa pergi kesana…Amiiieeeen~

    Cheers!

    Nilna Amelia

     
    • Ayi Rusanda Wijaya 8:30 pm on November 20, 2011 Permalink | Reply

      Assalamualaikum. masih inget ga ama ana yg kemarin tanya soal seputar pertanyaan di kantor imigrasi bandara narita jepang, benar kata2 anti, alhamdulillah ana tidak kena masalah, cuman ditanya tujuan sama berapa hari di jepang. Ooo iya, soal fake food itu, ana sempet jd kayak orang norak, dkirain itu makanan asli, tapi kok ana perhatikan beberapa hari makanannya ga ada yg berubah, eh taunya kata temen yg udah 2 kali ke jepang itu katanya makanan palsu atau dari plastik…hmmm pantes keliatan seger terus…
      Ada satu pengalaman sangat menarik menurut ana ketika melakukan perjalanan di jepang. waktu itu ana mau balik ke shinjuku tokyo dari tempat ana kunjungan kejepang yaitu di daerah Hadano city, prefektur Kanagawa. dari hadano ana naik kereta 2 kali ke shinjuku, ketika turun dari kereta pertama dan akan pindah ke kerata ke dua jurusan shinjuku, ( ana lupa nama tempat/kota transitnya, tapi sekitar 15 menit dari hadano ), teman ana baru ingat, tas-nya tertinggal di kereta, mau dikejar keretanya udah pergi jauh, akhirnya kami lapor ke petugas distasiun sana, sambil berharap tasnya bisa ditemukan, karena isinya ada yg penting banget, yaitu tiket pesawat pulang ke jakarta dan surat2 lainnya. setelah lapor kami terus melanjutkan perjalanan naik kereta jurusan shinjuku tokyo, sambil2 berharap2 cemas tasnya bisa ditemukan, padahal saat lapor kita juga ga secara spesifik menerangkan kejadiannya, hanya mengatakan kehilangan tas hitam dikereta, tapi ad satu keyakinan bahwa klo tas kita hilang di jepang, katanya bisa kembali utuh lagi ketangan kita, dan memang terbukti, ketika kita sampai di shinjuku, dan menanyakan ke bagian kehilangan, ternyata tasnya udah ada, udah duluan nyampe tas-nya dari pada kita, hehe…jadi norak yah….mungkin klo diindonesi kita cuman bisa berharap tanpa kepastian klo kehilangan sesuatu, selebihnya diikhlaskan saja barang kita hilang, hehe……

  • Nilna 11:19 pm on October 18, 2011 Permalink | Reply  

    I miss them! 

    Suddenly, I want to eat these sweets.

    1. Babongko

    Indonesian traditional sweets, made from banana and coconut milk, wrapped in banana leaf and steamed. It is common sweet in holy month of Ramadhan, and very nice as a ta’jil (light meal after finishing fasting). When I was in Dumai, my mother’s friend always give her bobongko homemade cooking for us, and the taste was delicious!

    2. Awug

    Awug is made from grated coconut and palm sugar. Like bobongko it is also cooked by steaming in a special triangle steamer. I usually bought awug in Jl.Cileunyi. There is small cart selling this awug.

    3. Kue ape

    well, I have funny memories in term of “ape”. hahaha… It reminds me of high school memories. I always bought it after school. It’s very cheap, and very delicious, of course!

    5. Kue putu ayu/kue mangkuk

    I don’t the name of this sweets, when I search in google I found it in a website above and the name is kue putu ayu. Nice name! I usually named it kue mangkuk, because it is cooked in a small plastic bowl (we called bowl as mangkuk in Indonesia, so I called it kue mangkuk). I usually bought it near my bestfriend boarding house. Everytime I went to her boarding house, I always stopped by and bought this tiny green sweets. My bestfriend knows I love this sweets very much, so when I was hospitalized, she bought me a box full of kue mangkuk, and it was still warm enough when I ate it.

    I miss those sweets very much!!!!!!!! To be honest I already fed up with Japanese sweets that always have same taste, very sweet with red bean paste inside.

    Well, I must be patient until I come home to Indonesia, and I will make sure to eat those sweets above become my to-do-list. Insya Allah :)

     

    Cheers!

    Nilna Amelia

     
  • Nilna 3:47 pm on October 13, 2011 Permalink | Reply  

    Dear diary,

    Akhir-akhir di wall facebook, banyak sekali foto-foto akad nikah, resepsi teman-teman. Bahkan sahabat dekat saya sudah hamil anak kedua.

    Wooow!!!!

    Saya pengen nikaaaah~

    Hahahahaa… siapa juga yang ga pengen?

    Tapi untuk sekarang, dinikmati aja yang ada. Dinikmati dulu bangun tidur sendirian, dinikmati aja dulu masih ngurus diri sendiri, belum ngurus suami. Dinikmati aja dulu nyari ilmu di negeri orang. Dinikmati aja dulu boleh keluar jalan-jalan tanpa harus izin sama suami. Yah, dinikmati aja dulu…

    Dinikmati juga waktu yang ada untuk belajar menjadi wanita solehah, wanita yang jago masak, dan wanita yang jago ngurus rumah. Oh ya, jadi wanita yang pinter juga, biar nanti anaknya pinter juga :)

    Biar pas nikah ga kaget…hahahahaa…

    Semua indah pada waktunya. Sang Maha Tahu tau yang terbaik buat hambaNya :)

    Selamat buat teman-teman yang sudah menikah, yang lagi hamil, dan yang sedang mengurus anaknya. Doakan saya menyusul kalian yaaaa… :) :)

     

    Cheers!

    Nilna Amelia

     
    • adhe yazid 9:29 pm on October 16, 2011 Permalink | Reply

      Waaaaah…mantep juga mba…siapa yg ga mau pnya istri pinter ky gini. Salam kenal yaa mba nilna

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.