Kali Kedua Menjejaki Jepang

Dear diary,

Saya mau menceritakan pengalaman kedua tiba di Jepang. Sebelumnya saya sudah pernah ke Jepang pada Juli 2009, saat itu saya mendarat di Narita International Airport untuk mengikuti program summer school di Ichikawa Nihongo Gakuin. Pengalaman saya waktu itu bisa dilihat disini. Nah, untuk kali kedua ini saya mendarat di airport yang berbeda, di Kansai International Airport (KIX), Osaka.

Awalnya rada deg-degan juga sih, sebab ini pertama kali saya keluar negeri sendirian, jika sebelumnya sama keluarga dan teman-teman, kali ini saya benar-benar seorang diri. Meskipun ada beberapa orang Indonesia yang baru saja saya kenal karena naik pesawat bareng, tapi tetap saja tidak ada orang yang saya kenal dekat. Wah, kalo ada apa-apa di keimigrasian bisa barabe nih. Akhirnya dengan sedikit bahasa Jepang pas-pasan dan senyum serta sapaan seperti “Ohayou gozaimasu” saya berhasil lolos dari prosedur keimigrasian. Alhamdulillah.

Rintangan selanjutnya, ngambil koper.  Sebenarnya saya berangkat ke Jepang dengan titel kelebihan muatan. Koper saya beratnya 42 kilo, yang berarti saya kelebihan berat 12 kilo (untuk pelajar, maskapai penerbangan yang saya pakai memberi keringanan untuk dapat membawa bagasi 30 kilo, belum termasuk bagasi kabin).  Kemudian ditambah dengan ransel yang saya sangat yakini kalau beratnya lebih dari tujuh kilo.Gara-gara kelebihan bagasi ini saya sempat berantem dulu dengan orang tua, tapi akhirnya selesai dengan damai dan mufakat. huehehehehe…

Ok, balik ke proses pengambil airport di KIX. Saya mendorong sendirian trolley saya dan menunggu dengan deg-degan di dekat conveyor belt. Tak lama deretan koper mulai terlihat. Lama baru muncullah koper saya. Hap!! dengan sigap saya mencengkram dan menariknya dari conveyor belt. Saveee!!! Koper saya tiba di Osaka dalam keadaan utuh. Saya lalu menggiring koper saya ke trolley dan menaikkannya ke trolley itu. Tapi….

“Uuuughhhh…”

Saya mengeram, mengeluarkan seluruh daya dan upaya, koper terangkat sedikit, tapi tidak bisa naik ke trolley. Hiks! Kenapa disini tidak ada porter sih?? Ok, mari coba sekali lagi…

“Uuuugghh…”

Tetap tidak naik.

Putus asa, akhirnya saya melirik ke sebelah saya, seorang bule ganteng. Saya mendekatinya dan memelas, ” excuse me, could you help me?” tanya saya sambil menunjuk koper saya yang super berat itu. Si bule mengangguk dan dengan sekali angkat, hup! koper sudah nongkrong dengan indahnya di trolley.

” Thank you very much!” ujar saya tanpa bisa menyembunyikan perasaan lega.

” You’re welcome,” katanya.

Si bule pun kembali menanti kedatangan tasnya, dan saya mendorong trolley. Ok, tantangan selanjutnya: menyelamatkan rendang dan makanan lainnya dari sergapan orang-orang pengawas airport (apa sih namanya? bea cukai bukan? itu tuuuh tempat goods to declare dan no goods to declare). Saya bersikap normal, mencoba kembali peruntungan saat dulu pertama kali ke Jepang dan membawa rendang. Alhamdulillah, kali kedua ini lolos. Yeeeeey proses imigrasi, check! Koper selamat, check! Rendang lolos, check! Dan dengan senyum mengembang saya keluar dari ruang kedatangan internasional. Japan, yokoso!!!

Lalu….

Saya bingung….

Kenapa?

Soalnya saya harus menunggu teman yang mau ke Fukui juga, rencananya kita akan berangkat bareng kesana, karena saya ga tau jalan kesananya. Bisa aja sih kalo mau nekat tanya-tanya, tapi malas juga sendirian naik kereta atau bus, mending dekat ini mah naek kereta aja bisa tiga jam, belum lagi koper kelebihan berat yang harus saya giring-giring. Lesu juga mau pergi sendiri. Sang teman rencananya sampai di KIX pukul 11, kalo tidak delay yaaa. Saya tiba pukul 9, jadi kurang lebih dua jam-an lah saya menunggu di KIX.

Ah, cuma dua jam. Nungguin dokter gigi di rumah sakit lebih lama kok…

Iya, emang lebih lama nungguin dokter gigi di Bandung, tapi nungguin temen di KIX lebih ngebosenin. Kenapa? Pertama, ga ada temen ngobrol. Kedua, udara dingin, mau ke toilet barang ga ada yang jagain. Ketiga, semua orang ngeliatin saya seakan-akan saya mahluk aneh. Huhuhuhuhuhuuu…

Baru semenit duduk di kursi tunggu, tiba-tiba seorang lelaki berumur 20 akhir atau 30 awal, mengenakan jas hitam menghampiri saya, kemudian mengeluarkan sebuah badge, dan badge tersebut bertuliskan POLICE.

Wadddduuuuuh…jangan-jangan saya dikira mau berbuat kriminal nih…

Pak polisi itu tersenyum, kemudian bertanya saya dari mana, ke Jepang mau ngapain. Saya jawab dengan jawaban sejujur-jujurnya, saya bilang dari Indonesia, kesini mau sekolah. Lalu pak polisi bertanya lagi, dimana sekolahnya? Saya jawab, di Fukui. Kemudian respon pak polisi itu, waaah, disana dingin sekali lho! tapi onsen sama kepitingnya enak.

Kalau saya punya banyak uang, saya beli kepitingnya, pak! saya bikin kepiting lada hitam.

Dengan senyum cerah ceria, pak polisi itu lagi bertanya: ” Passphoto o motte imasuka?” Bawa passphoto

Lho, aneh banget ditanya pass photo. Untung saya bawa di ransel, jadi ga perlu bongkar-bongkar koper.

Lalu saya mulai mengeluarkan beberapa lembar pass photo yang berbeda-beda ukurannya, dan bertanya, “saizu wa?” ukurannya apa?

Si pak polisi bukannya menjawab, malah bengong, tapi berusaha tetap tersenyum (bingung kan, bengong sambil tersenyum gimana coba?)

” Passphoto janai yo. Pasupoto desu yo,” katanya.

Wakwaaaaaaaaaaaw…ternyata passport toh maksudnya, makanya aye juga bingung kenapa eyke minta photo saya. Untung saya waktu itu ga mikir kalo potonya jangan-jangan buat dikasih ke biro jodoh. Hahahahaa…

” Ah, sumimasen,” kata saya, malu juga siiih. Lalu saya mengeluarkan passport saya dan memperlihatkannya kepada pak polisi.

Beliau mencatat nama saya dan no passport. Lalu memberikan kembali ke saya dan beliau kembali menceritakan tentang Jepang. Bercerita kalau di Fukui saljunya tebal sekali, sementara di Osaka tidak pernah ada salju. Hmmm….

Setelah ngobrol-ngobrol, pak polisi meninggalkan saya sendirian. Saya kembali bingung, mau ngapain yaaaa? Di depan saya, kafe Starbucks begitu menggoda, tapi saya menahan diri, mengingat uang saku yang diberikan bukan buat foya-foya di kafe mewah. Akhirnya saya tetap duduk sambil membaca buku, tapi sayang, bukunya kurang menarik, jadi waktu saya lebih banyak dipakai buat bengong ngeliat orang-orang seliweran. Dua jam bengong dan ngeliatin orang, akhirnya teman saya datang juga dan kita segera bergegas naik kereta sambil menggotong dua koper yang sama aja beratnya :p

Cheers!

Nilna Amelia

4 thoughts on “Kali Kedua Menjejaki Jepang

  1. abang: hiks hiks…abang juga sukses ya disana…*terharu juga* :p

    Mel: hahaha…dari dulu selalu dag dig dug kalo berurusan sama imigrasi…takuuuuut…untungnya selama ini lancar-lancar saja, semoga seterusnya juga begitu ^^
    terima kasiiih…dirimu juga sukses ya di tempat kerja baruu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s