Fukui: first impression

Dear diary,

Kali ini saya mau melanjutkan cerita yang seharusnya kemarin malam saya posting. Mengenai kesan pesan pertama saya terhadap Fukui.

Pasti banyak yang tidak tahu kalau di Jepang ada kota bernama Fukui. Jadi saya jelaskan dulu sekilas mengenai Fukui. Fukui (福井) merupakan salah satu prefekture di Jepang, terletak di daerah Hokuriku, sebelah barat daya Tokyo. Saya tidak begitu tahu persis jarak Fukui ke Tokyo, yang jelas, kalau naik kereta api biasa bisa memakan waktu 10 jam, kalau dari Osaka lebih dekat lagi, naik kereta api ekspress (tidak ada shinkansen menuju Fukui) memakan waktu kurang lebih tiga jam.

Kesan orang Jepang sendiri mengenai Fukui ialah: sangat dingiiiiiiin, dan memang benar dingin. Meskipun suhunya jarang berada di bawah titik nol derajat, tetap saja dingiiiiiiin. Fukui juga terkenal sepi, dan memang benar sepi (kalau dibandingkan dengan Tokyo atau Jakarta). Menurut saya, Fukui seperti Dumai, kota di Riau yang pernah saya tinggali. Tidak seperti kota besar Jepang yang semua orangnya berjalan cepat, sibuk, dan bahkan susah untuk menyapa, di Fukui semua orang memang sibuk, tapi ritme jalannya lebih lambat (meskipun begitu, saya tetap saja suka kalah cepat dengan mereka), dan kalau kita menyapa mereka, mereka pasti membalas sapaan kita.

Kata orang-orang yang sudah pergi ke Jepang, lebih enak sekolah di daerah terpencil daripada di kota besar, karena lebih murah. Eits, lebih murah apa dulu??? Kalau soal makanan, malah relatif sama dengan kota besar seperti Tokyo, bahkan ada beberapa bahan makanan yang relatif mahal. Lalu untuk transportasi umum seperti kereta dan bus, waaaah…kayaknya sama saja mahalnya. Tapi untuk sewa apartemen, memang lebih murah. Selain itu, di kota kecil kan hiburan tidak banyak, jadi tidak banyak uang keluar untuk hiburan-hiburan seperti bioskop, makan-makan di cafe, atau berkaraoke. Selain itu, minimalisnya hiburan membuat orang (katanya) lebih konsen belajar. Well, untuk point terakhir, belum terbukti pada saya :p

Saya pertama kali sampai di Fukui hari Minggu, 10 Januari 2010, bersama teman saya yang juga kuliah di Fukui, Zener. Zener sudah lebih dulu datang ke Fukui pada bulan September 2009, dan sekarang sedang mengambil program Doktor.

Sambil mendorong dua koper yan besarnya amit-amit, kita berdua bertolak dari Kansai menuju Fukui, dua kali turun kereta dan heboh karena koper yang berat (apalagi koper saya), kita sampai di Fukui Eki. Namun meskipun judulnya sudah Fukui, ternyata perjuangan belum selesai, kami harus naik kereta lagi menuju stasiun kecil bernama Fukudaimae-Nishifukui, stasiun terdekat dari apartemen dan Universitas Fukui.

Kereta menuju Fukudaimae-Nishifukui berbeda dengan kereta Jepang yang selama ini saya naiki. Kenapa? Pertama: gerbongnya cuma satu, kedua: ada pramugarinya. Hahahahahahhaaaaa…kocak daaah…pramugarinya kerjanya ngucapin makasih ke penumpang, terus ngumumin pemberhentian selanjutnya, bahkan ngebantuin penumpang yang kesulitan bawa kereta dorong bayi atau orang lanjut usia. Cuma kurang nawarin makanan aja, kayak pramugari di kereta.

Ok, begitu sampai di Fukudaimae-Nishifukui, kami kembali berjuang menarik koper kami. Di depan stasiun ternyata supermarket bernama Mitsuwa, yang menjual tidak hanya makanan dan peralatan mandi, tapi baju dan peralatan elektronik. Hmmm…kalau di Indonesia mungkin seperti Carrefour atau Giant.

Kesan pertama saat melihat daerah sekitar tempat tinggal saya nantinya adalah: sepi. Di parkiran Mitsuwa cuma ada beberapa mobil, serta lima taksi yang mengantri untuk menunggu penumpang. Tapi, di parkiran sepeda, berjejer begitu banyak sepeda. Ya, disini memang lebih praktis naik sepeda. Karena Fukui cukup kecil, jadi memang lebih enak kemana-mana bersepada, disamping sehat, tidak perlu merogoh kocek untuk membayar tiket kereta atau bus.

Lalu, baru setengah jalan menuju apato (apartemen) tempat saya nanti tinggal, kami bertemu oleh Adrian, mahasiswa Fukui program Master. Adrian lalu menemani kita menuju apato. Sampai di Apato, saya dipinjami oleh Zener sepeda miliknya, lalu saya dan Adrian bertolak menuju (apa ya namanya???) tempat buat ngurus-ngurus apato.

Habis ngurus-ngurus pembayaran, bla bla bla, yang saya ga tau mbaknya ngomong apa, kita kembali ke apato. Akhirnya saya dapat kunci kamar. Horeeeeeeee….Kunci dimasukkan, diputar, dan pintu terbuka.

Eng……..ing………..eng…………..

Sebuah bilik seluas 13 meter persegi, lengkap dengan kamar mandi dan dapur mini menyambut saya. Saya jadi teringat kamar kostan sahabat saya. Hmmm, sebentar lagi saya akan memulai hidup sebagai anak kost. Bismillah….

Di apartemen ini saya bertetangga dengan Zener dan Pak Munadi (mahasiswa Fukui program Doktor). Kalau Zener kamarnya benar-benar di sebelah saya, Pak Munadi kamarnya di lantai tiga (saya dan Zener di lantai dua).

Berhubung kamar kosong melompong…ong…ong…dan tidak mungkin saya tidur di lantai, jadi saya harus membeli futon (kasur jepang) hari itu juga, bersama selimut dan karpet (biar tidak kedinginan). Namun karena kebaikan semua teman-teman Indonesia di Fukui, saya tidak perlu membeli semuanya. Ternyata keluarga Pak Khaeruman memberikan saya futon dan seprei. Lalu Mas Ali, yang selama ini selalu jadi penghubung antaran Fukui Daigaku dan saya, memberikan saya selimut dan seprei. Jadi ujungnya saya hanya membeli karpet dan rice cooker. Lalu zener juga memberikan bantal baru kepada saya.

Akhirnya malam pertama saya di Fukui, kamar saya sudah ada futon, seprei, karpet, bantal, dan rice cooker. Sebenarnya ada juga penghangat ruangan (heater) dari Zener, tapi karena tidak begitu hangat, jadi malam itu saya memilih menggunakan danbou (penghangat seperti AC).

Hari itu saya banyak sekali dibantu oleh teman-teman di Indonesia. Zener yang membantu saya mengangkat dan menurunkan koper dari kereta ke kereta, bahkan mengangkat koper saya ke lantai dua, terima kasih banyak. Adrian yang sudah menemani buat ngurus apato dan menerjemahkan omongan super cepat mbak-mbak pengurus apato, terima kasih banyak. Pak Khaeruman dan Ibu yang sudah memberikan futon dan makan malam hari itu, terima kasih banyak. Mas Ali, yang sudah direpotin oleh saya sejak enam bulan sebelum kedatangan saya ke Fukui, terima kasih banyak. Pak Munadi yang sudah ngasih masukan buat hidup enak di apato, terima kasih banyak.

Terima kasih banyak semuanya atas bantuan hari itu, semoga Allah SWT membalas kebaikan semuanya berkali-kali lipat. Amieeen…

Cheers!

Nilna Amelia

3 thoughts on “Fukui: first impression

  1. asw.
    salam kenal nilna,,
    Firsly…sy ucapkan slamat ats kberhasilan masuk Fukui. Sy mnemukan blog nilna waktu cari2 info ttg fukui univ.
    S4 surprise waktu baca kok ada nama ali. Apa Ali Khumaeni?dl sy S1 d undip, klo bnr Ali K.,bliau kakak tgkt sy yg skg mmg sdg studi d fukui.
    Boleh sy minta almt email nilna u ngobrol d ruang yg lbh ttutup?:).
    Saat ini sy sdg studi s2 doble degree d univ brawijaya. Biasanya bulan septmber/oktober sdh mlai kluar,jd sy sdg cr2 lowongan research student:)
    Trims phatiannya.

    Best regards,
    Tisa

  2. Asslm…
    Sy mau tanya tentang Universitas Fukui,apakah disana ada program research studentnya?seperti beasiswa monbusho gitu.
    Kalau boleh dan tidak merepotkan Nilna Amelia,bolehkah saya minta alamat email professor yang membawahi program beasiswa ini? Oya saya lulusan UGM Yogyakarta.
    Terima kasih sebelumnya. Oya tlg infonya dikirim melalui email saya di hepzro@gmail.com.
    Thanks dan sukses selalu.Amiiiin

  3. buat mbak tisa:
    Iya, Mas Ali Khumaeni, mbak.
    td saya sudah bilang ke mas ali, kata beliau bisa ke blog beliau di http://www.khumaeni.wordpress.com. ^^

    buat mas hapsoro:
    kalo mengenai program monbusho, saya kurang tahu. Sebab saya bukan dr program monbusho. Untuk profesornya, nanti saya tanya ke teman-teman yang dapat monbusho disini.
    Kalo program research sendiri, ada kok. Saya sendiri, awalnya dari program research disini. Tapi waktu itu saya yang meminta langsung ke Sensei saya, dan Alhamdulillah Sensei saya langsung menerima. Intinya kalo mau program riset disini, harus kontak ke Sensei yang berada di bidang yang sesuai dengan bidang Mas Hapsoro. Kalau sudah dapat, peluang untuk bisa sekolah di Jepang dan dapat beasiswanya lebih besar.
    Semoga bisa membantu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s