Lab baru saya: first impression

Dear diary,

Seperti di postingan sebelumnya, saya tiba di Fukui hari Minggu, 10 Januari 2010. Seharusnya hari Senin saya sudah bisa bertemu dengan Sensei (guru, dalam hal ini pembimbing saya buat program S2 nantinya), namun Senin, 11 Januari 2010 adalah hari libur nasional di Jepang. Minggu kedua bulan Januari adalah hari perayaan menjadi orang dewasa (seijinshiki). Nah, berhubung libur, saya baru bisa bertemu dengan sensei pada hari selasa, 12 Januari 2010.

Awalnya deg-degan juga mau bertemu dengan Sensei, maklum selama ini komunikasi saya dengan sensei hanya sebatas email. Saya sempat mencari-cari di informasi tentang sensei di internet, semuanya dalam bahasa Jepang, informasi dalam bahasa Inggris hanya nama dan bidang yang ditekuni, standar bangetlah. Saya makin penasaran, apa sensei saya sudah tua atau masih muda? Baik ga ya? Jangan-jangan killer lagi? Kalau killer, saya harus mempersiapkan mental dari awal. Belum selesai khawatir soal sensei, saya juga kepikiran tentang teman-teman lab,bagaimana ya mereka? Apa mereka nanti bakal mempermasalahkan keharusan saya sebagai seorang muslim? Terus apa saya bisa berteman baik dengan mereka. Semua pikiran itu berputar-putar di kepala saya selama tanggal 11 Januari 2010.

Karena terlalu khawatir, akhirnya saya mendapat masukan dari Pak Khaeruman. Kebetulan hari Senin itu, saya ikut keluarga Pak Khaeruman jalan-jalan. “ Tenang saja pas ketemu sensei. Yang jelas hal pertama yang harus kamu katakana kepada sensei ialah mengenai sholat, itu yang paling penting. Lebih baik ditanyakan apakah bisa sholat di lab? Kalau tidak bisa, apakah boleh pulang untuk sholat? Pokoknya itu dulu yang harus ditanyakan,” kata Pak Khaeruman.

“ Lalu orang Jepang senang party, sedikit-sedikit pasti party. Nah, mengenai party, jangan tanyakan ke sensei, tapi tanyakan ke teman-teman di lab. Biasanya mereka punya jadwal party, kalau di lab saya setiap hari Rabu. Lalu katakan juga pada mereka, kalau kamu muslim, ada beberapa makanan dan minuman yang tidak boleh di konsumsi. Bilangnya harus dari awal, supaya mereka mengerti. Jangan bilang pas lagi party,karena nanti mereka tersinggung kalo baru dibilang akhir-akhir,” lanjut Pak Khaeruman lagi.

Akhirnya pada tanggal 12 Januari 2010, berbekal doa, masukan Pak Khaeruman, dan oleh-oleh dari Indonesia, akhirnya saya berangkat ke Fukui University yang jaraknya cuma 100 meter ga nyampe dari apato. Saya berangkat pukul 09.00 pagi bersama Zener.

Begitu sampai kampus, saya memutuskan untuk ke international office terlebih dahulu, bertemu dengan Hayashi-san, pihak Universitas Fukui yang membantu saya dalam proses pengurusan menjadi research student di universitas ini. Beliau juga membantu saya untuk pengurusan certificate of eligibility untuk meng-apply visa ke Jepang. Harapan saya waktu itu ketika akan bertemu Hayashi-san, beliau bisa membantu saya untuk bertemu dengan sensei, karena jujur saja, saya tidak tahu di mana gedung tempat lab saya nantinya berada, Zener juga tidak tahu. Jadi, daripada nyasar, mendingan mencari petunjuk di international office. Hehehe..

Sampai di international office, ternyata Hayashi-san belum datang, yang ada hanya Tanaka-san. Saya tidak pernah berkomunikasi dengan Tanaka-san, jadi beliau tampak kebingunan melihat saya. Karena ujung-ujungnya jadi sedikit ribet, saya disuruh menunggu Hayashi-san sampai pukul 09.30, malah jadi lama deh. Untungnya Mas Ali tiba-tiba datang setelah ditelpon Zener. Padahal Mas Ali mau ada kuliah waktu itu. Tanpa panjang lebar, Mas Ali menjelaskan kepada Tanaka-san, dan tiba-tiba saja eng ing eng…Hayashi-san datang dan mengambil alih Tanaka-san. Sat! sat! sat! langsung dapat deh nama sensei dalam tulisan kanji, nomor ruangan labnya, dan gedung mana labnya berada. Segera saya, Zener, dan Mas Ali melesat ke alamat yang ditulis Hayashi-san.

Tapi…

Begitu sampai depan ruangan sensei, ternyata eh ternyata, senseinya belum datang. Bingung dong saya… Mas Ali mau ada kuliah, Zener juga pasti mau ngerjain sesuatu, terus saya gimana dooong?? Jadi anak terlantar. Tapi untung saja Mas Ali dan Zener berbaik hati bilang ke sensei mereka, jadi saya boleh numpang sebentar di lab mereka sampai menunggu pukul 10.00 tiba untuk kembali ke ruangan sensei, dengan harapan sensei sudah datang.

Pukul 10.00 pun tiba, karena saya ga yakin sensei sudah datang, saya berniat untuk ke tempat sensei pukul 10.30, hehehe…

Pukul 10.30 pun tiba, akhirnya saya bergerak menuju tempat sensei. Eng…ing…eng…sampai disana, lampu ruangan sensei sudah menyala, pertanda beliau sudah datang. Bismillahirrahmanirrahim, saya mengetuk pintu ruangan sensei.

Pintu terbuka, seorang mahasiswa menyambut saya, tak lama sensei pun muncul. Sensei saya bernama Akihiko Sakurai, seorang associate professor. Bayangan saya bahwa sensei sudah tua dan galak, ternyata melenceng jauh. Sensei saya berpostur tubuh tinggi, gayanya casual, jelana jeans, sweater (biasanya kalau ga hijau lumur, warna orange), dan jaket hijau. Menurut tebakan saya, sensei masih muda, mungkin seumuran dengan dosen-dosen saya di kampus terdahulu, sekitar 30an akhir atau 40an awal. Dan beliau ramah, suka bercanda dengan mahasiswanya. Beliau lalu mengenalkan saya kepada teman-teman satu lab.

Lab saya, Applied Chemistry and Biotechnology, Faculty of Engineering, memiliki bidang penelitian yang spesifik: pengembangan enzim dari white rot fungus untuk aplikasi ke biomedis ataupun bioremediasi. Di lab saya, Sensei dibantu oleh technician bernama Fumio Okada-sensei yang tampaknya kalau dari umur, sudah lebih senior dari sensei saya. Okada-sensei orangnya cekatan, tanggap teknologi, dan juga suka bercanda.

Disini ada 17 mahasiswa (ditambah saya). Dua orang post-doc, Masuda-san dan Shankor-san. Masuda-san, peneliti wanita yang tipe sedikit bicara banyak bekerja, Shankor-san ialah orang Bangladesh, sudah berada di lab ini sejak program Doktor. Shankor-san lancar berbahasa Jepang tapi membaca aksara Jepang tidak begitu bisa, kalau ketawa, tawanya membahana dan ceria sekali. Kemudian seorang mahasiswa program Doktor semester akhir, Fujihara-san. Fuji-senpai (senpai: panggilan untuk kakak kelas atau senior), kami biasa memanggilnya, ialah mahasiswa berotak paling encer di lab ini. Masih muda, tampaknya seumuran dengan Zener atau lebih tua sedikit, ramah dan senang dengan hal-hal baru. Fuji-senpai ialah teman luar negeri pertama saya yang bertanya: bagaimana sih cara orang muslim sholat?

Berikutnya ada lima orang mahasiswa program master. Okado-senpai, Yang-san dan Wang-san yang berada di tingkat akhir dan akan lulus Maret ini. Okado-senpai ialah sosok pria supel dan sangat ramah. Karena bahasa Jepang saya terbatas, saya tidak begitu banyak mengikuti obrolan teman-teman di lab, tapi Okado-senpai selalu mengajak saya bicara. Beliau selalu menggunakan kalimat bahasa Jepang yang mudah saya pahami, selain itu Okado-senpai juga lumayan jago berbahasa Inggris, jadi kalau mentok di bahasa Jepang, dia selalu mengartikannya ke bahasa inggris. Sementara Yang-san dan Wang-san, dua gadis berkebangsaan China yang ngomong Jepangnya sudah cas-cis-cus. Keduanya baik dan murah senyum. Dua mahasiswa program master lainnya ialah Watanabe-senpai dan Akimaru-senpai, keduanya berada di tingkat satu. Sejauh ini mereka berdua cukup baik. Watanabe-senpai cukup sabar mengajari saya mengenai pembuatan medium serta inokulasi jamur yang ternyata sangat detail tata caranya disini.

Delapan mahasiswa lainnya ialah mahasiswa S1 tingkat akhir yang bulan Maret tahun ini lulus. Rasio pria wanita berimbang, empat pria dan empat wanita. Prianya adalah: Ichihara-san, Horia-san, Hori-san, dan Oba-san. Lalu wanitanya adalah: Inoe-san, Koketsu-san, Tami-san, dan Erika-san. Semuanya ramah-ramah, kalau saya tanya mengenai sesuatu seperti penelitian, atau cara kerja alat, mereka selalu mempersiapkan kamus elektronik Jepang-Inggris yang siap menerjemahkan perkataan mereka ke dalam bahasa inggris yang saya mengerti. Hehehehehe…

Alhamdulillah teman-teman di lab baik, suasananya juga ceria. Meskipun saya belum bisa berkomunikasi dengan lancar, tetapi saya selalu berusaha. Minimal dalam sehari saya harus melakukan conversation dengan salah satu dari mereka dalam bahasa Jepang, entah sekedar bertanya penelitian yang mereka lakukan, cara kerja alat, atau bahkan mengenai makanan. Pokoknya belajar bahasa Jepang sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Hehehehehe…

Mohon doanya, semoga selama dua tahun di lab ini segala menyenangkan dan berjalan lancar. Amieeen…

Cheers!

Nilna Amelia

2 thoughts on “Lab baru saya: first impression

  1. wahhh nonoko_chan bisa kuliah de jepang?? senangnya!!
    aku mau nanya kalo kita lulusan d-3 gitu bisa ga nerusin di jepang??
    pengen la kuliah ke Jepang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s