Welcoming party

Dear diary,

Salah satu kebiasaan nihonjin (orang Jepang) adalah mengadakan pesta. Pesta disini, semua orang berkumpul, makan ramai-ramai kemudian minum sampai mabuk. Satu lagi, kalau kita ikut pestanya, kita harus bayar. Jadi kalau kamu diundang makan-makan sama orang Jepang, dan beliau tidak mengatakan akan menanggung biaya pestanya, itu berarti kamu harus mempersiapkan uang buat patungan beli makanan dan minuman.

Orang Jepang tidak perlu event khusus untuk berpesta. Seperti kata Pak Khaeruman di postingan saya sebelumnya, lab beliau bahkan menjadikan pesta sebagai rutinitas mingguan. Jadi, kalau ingin makan ramai-ramai, kemudian minum sampai teler, itu artinya, ayo adakan pesta!

Meskipun demikian, ada juga event khusus untuk mengadakan pesta seperti ini. Sebut saja hanami, kegiatan piknik saat bunga Sakura bermekaran, lalu saat akhir tahun dan awal tahun. Nah, untuk kasus saya kali ini, ada pesta berjudul welcoming party. Pesta yang diadakan untuk menyambut anggota baru dari suatu perkumpulan.

Terus memangnya saya ikut perkumpulan apa? Jawabannya perkumpulan Lab Applied Chemistry and Biotechnology di bawah asuhan Sakurai-Sensei. Hahahahahaha….

Ya, teman-teman di lab berinisiatif mengadakan welcoming party untuk saya. Saking niatnya, hari pertama saya menginjak kaki di lab, mereka sudah menentukan kapan akan diadakan pestanya, yaitu hari kamis malam (dua hari setelah kedatangan saya), dan biayanya adalah 2000 Yen.

Berhubung saya muslim, dan teman-teman lab mungkin tahu sedikit tentang agama saya, mereka menanyakan makanan dan minuman yang tidak boleh saya konsumsi. Saya bilang saja: sake, bir, babi, dan segala jenis daging.

“ Eeeeh!!!! Tori niku to gyuu niku mo tabenai???” sontak mereka kaget. (Ga makan daging ayam dan sapi juga??)

Saya jawab iya. Sebenarnya sih makan, tapi makannya kalau tuan ayam dan tuan sapi disembelih pakai cara Islam, dan disini cuma ada satu tempat yang menjual daging halal itu, Mesjid Fukui. Masa iya saya nyuruh Okado-san belanja di mesjid Fukui? Secara, saya saja waktu itu belum pernah belanja disana.

Karena status saya mendadak menjadi “setengah vegetarian” di lab, akhirnya teman-teman memutuskan untuk mengadakan Nabe Party!! Pesta makan nabe. Nabenya dibuat menjadi dua, nabe seafood dan nabe daging. Nabe seafood khusus untuk saya, dan nabe daging, buat yang lain. Mereka lalu meminta pendapat saya, takut kalau saya juga tidak makan ikan. Saya setuju, dan jadilah pesta nabe hari kamis malam.

Hari Kamisnya, sebelum pesta mulai, saya pulang dulu ke apato untuk sholat maghrib. Setelah itu saya langsung kembali ke lab. Sebelumnya saya sempat berjumpa dengan Pak Khaeruman dan Pak Munadi, mereka mewanti-wanti saya untuk berhati-hati jangan sampai makan atau minum yang tidak halal. Hehehe…terima kasih atas wanti-wantinya, Pak.

Sesampainya di lab, ternyata teman-teman baru selesai berbelanja. Banyak sekali yang mereka beli, mulai dari sawi putih, konyaku, kulit tahu, tauge, kimchi, jamur, lalu ikan salmon, sampai makanan tidak halal seperti daging babi, daging ayam, bir berbagai rasa, dan sebotol besar sake.

Lalu, tanpa aba-aba, semua mulai bergotong royong untuk persiapan pesta. Ada yang memotong sayuran, memotong ikan, membersihkan meja, mempersiapkan bumbu-bumbu nabe, sampai menggulung kabel dan mendinginkan bir. Caranya es batu dimasukkan ke wadah plastic seperti Tupperware berukuran besar, lalu dikasih sedikit air dan bir dimasukkan.

Tak lama persiapan pun selesai,  kemudian sensei datang. Semua lalu mengambil posisinya masing-masing. Karena judulnya Niruna no welcoming party atau Don’t Bold’s welcoming party (Niruna artinya Don’t Bold! Dalam bahasa Jepang), saya berada di meja utama, tepat di sebelah sensei.

Party pun dimulai dengan peresmian dari sensei. Sensei menjelaskan kalau status saya sekarang research student, lalu bulan Maret nanti akan menjadi mahasiswa program master (dalam hati saya: Amiieeen Ya Allah). Lalu sensei juga menjelaskan darimana saya berasal dan tema penelitian saya. Kemudian semuanya mengangkat bir masing-masing (kecuali saya yang mengangkat gelas plastik berisi teh) lalu kanpaaai!!!!!! (cheers!!!)

Acara selanjutnya adalah: makan-makan!! Awalnya saya bingung bagaimana menghabiskan satu mangkuk besar nabe seafood milik saya, tapi ternyata teman-teman lab membantu juga, jadi saya tidak merasa terbebani harus menghabiskannya sendirian. Ada yang unik disini, tiga orang cewek yang ikut party duduk di dekat nabe, dan mereka dengan sabarnya menuangkan nabe untuk para cowok yang ingin makan. Hmm…adat timur sekali, wanita melayani pria. Kalau di Indonesia jarang nih yang beginian, sepengetahuan saya.

Setelah saya kenyang makan, brusssh!!! Daging babi langsung dicemplungkan ke dalam nabe seafood. Dan mereka mulai makan lagi dengan lahapnya, sementara saya cuma bisa melihat. Satu hal yang saya salut, sebanyak apapun makanan yang mereka beli, pasti habis tidak bersisa malam itu juga. Sugoooi!!!

Tak lama, sensei, Horia-kun, Inoue-san pun pamit pulang, disini ketika kamu ingin pulang, tinggal pamit saja. Jadi tidak perlu menunggu pesta selesai, karena selesainya pasti akan larut sekali. Sebenarnya waktu itu saya sudah ingin sekali pulang, namun karena judulnya welcoming party saya, tidak enak dong kalau pulang cepat.

Semakin larut, pesta makan-makan berubah menjadi pesta minum-minum. Waktu itu, pertama kalinya saya melihat orang mabuk. Beberapa cowok sudah mulai mabuk, dan mereka mulai bernyanyi-nyanyi, mulai dari Greeeen, Kobokuro, Mr.Child, Konayuki (siapa sih penyanyinya), sampai Arashi. Kemudian mereka mulai melakukan magic.

“ Niruna-san!! I can do magic!!” kata mereka, dan saya mengangguk saja. Tak lama mereka langsung memeragakan “sihir” mereka.

Sihir mereka adalah: menghilangkan isi gelas dalam tiga detik. Isi gelasnya adalah bir. Jadi dalam tiga hitungan, mereka harus menghabiskan bir dalam gelas. Jika berhasil, maka sihirnya sukses. Gubrak!!!

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih, dan saya sudah ingin pulang. Saya pikir waktu itu, mungkin pesta selesai ketika bir habis. Ketika pukul sebelas lima belas malam tiba, bir pun habis, dan saya sudah berharap pesta akan selesai. Namun ternyata dugaan saya salah. Mereka menambah pasokan bir dengan membeli di toko 24 jam. Ya ampuuuun!!! Udah mabuk juga, masih belum kapok…. >.<

Akhirnya, karena sudah tidak tahan, saya pamit pulang. Dan mereka tetap melanjutkan welcoming party saya. Esoknya saya tahu bahwa pesta selesai pukul 1.30 dini hari, untung saja saya tidak menunggu sampai selesai.

Alhamdulillah, hari itu saya selamat sampai di apato dan Insya Allah, tidak menelan satu pun makanan dan meneguk minuman yang tidak halal. Oh ya, karena baru pertama kali ikut pesta, saya tidak kena charge 2000 yen seperti yang lainnya ^^

Cheers!

Nilna Amelia

2 thoughts on “Welcoming party

  1. suka aku dengan kalimatmu yang ini “Saya jawab iya. Sebenarnya sih makan, tapi makannya kalau tuan ayam dan tuan sapi disembelih pakai cara Islam”

    btw sekarang udah bisa masak nabe khan? yuk parti nabe yuk😀 tenang untuk kanpai, kite pakai teh ajah.

    btw bner yah pernyataanmu yang “tiga orang cewek yang ikut party duduk di dekat nabe, dan mereka dengan sabarnya menuangkan nabe untuk para cowok yang ingin makan.” kok kemarin kayanya pas parti aku, mereka saling menuangkan makanan ke temen yah???? terus ambil sendiri gak ada perbedaan antara cowo dan cewe yah????

    hmmm….. janagn2x mereka suka kali tuh sama cowonya:p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s