Paket dari Indonesia

Dear diary,

Horeee!!! Akhirnya paket dari Indonesia sampai juga. Setelah penantian sekian lama akhirnya sampai dengan utuh (lebaay…). Begitu pak pos datang, saya sudah tahu kalau itu adalah kiriman untuk saya. Yah, sebelum kirimannya sampai, ibu saya sudah mewanti-wanti kalau bungkus paketnya adalah kertas kado bergambar hati. Dan inilah diaaaaaaa….

Paket "cinta" dari Indonesia😀

Kayaknya kertas kado ini adalah bentuk kamuflase yang dibuat oleh orang tua saya untuk menyembunyikan benda-benda seperti dendeng, rendang atau sambal lado. Hahahahaa… Kamuflase ini sudah diterapkan sejak kakak saya berangkat ke Jerman, atas saran Mak Tuo saya. Membungkus rendang dengan kertas kado agar terlihat seperti kado untuk handai taulan di Jerman. Jadi ketika ditanya petugas bandara, kita bisa berdalih: “ Ini kado buat om saya di Bremen” wakwaaaw, padahal mah ga ada om di Bremen, tante juga ga ada.

Proses pengiriman paket cukup lancar, meskipun ini kali pertama orang tua saya mengirim ke luar negeri. Selama ini saya yang selalu berurusan dengan kantor pos, sampai-sampai saya bisa hapal warna jilbab yang dipakai mbak-mbak yang ngurus EMS di kantor pos Banda. Hehehehe…(jadi kangen sama mbak-mbak itu…si mbak kangen ga ya sama saya?) :p

Hari Jumat minggu lalu saya dapat kabar lewat YM dari ayah saya. Singkat, padat, jelas: “paket sudah dikirim pakai EMS”. Begitu saya membacanya, saya langsung menghitung hari, hmm…EMS itu sampainya 4 hari ke negara tujuan. Berarti hari Selasa sudah sampai di Jepang, masuk bea cukai, mungkin di bea cukainya lama kali ya, paling cepet sampai hari Jumat depan deh, pikir saya.

Perkiraan saya meleset sedikit. Kamis siang, saat saya pulang ke apato untuk sholat dan makan, seperti biasa saya memeriksa kotak pos saya. Berharap ada kiriman anda menang undian 100.000 yen!! (hahahaha…ngimpiii kali yeeee…)

Tentu saja tidak ada surat pengumuman menang undian, adanya dua buah surat yang beralamat sama dengan saya tapi bukan ditujukan untuk saya, dan secarik kertas. Secarik kertas yang sama dengan dulu yang pernah saya terima bahwa ada surat atau paket untuk saya yang diantarkan saat saya tidak ada di rumah. Di kertas tersebut tertulis nama saya sebagai si penerima, dan nama ayah saya sebagai pengirim.

Yattaaaaa!!! Paketnya sudah sampaaaaai!!!

Lalu, bagaimana cara ngambilnya ya? Saya melirik ke luar apato, salju masih terus turun, nampak akan susah buat mengambil langsung ke kantor pos. Disamping tidak punya sepeda saya malas naik bus, bukan apa-apa, saya belum hapal benar daerah “kota”. Lalu bagaimana kalau paketnya besar? Repot juga gotong-gotong paket besar dari kantor pos ke apato. Kalau begitu, minta diantar kesini saja lagi deh, kalo ga salah tinggal nelpon ke kantor pos dan minta diantarkan lagi ke apato.

Eh, harus pakai bahasa jepang ya? Terus bahasa jepang “saya minta paketnya dianterin ke rumah” apa ya?

Beginilah kalo bahasa jepangnya abal-abalan, dibilang bisa juga enggak, dibilang ga bisa juga enggak. Akhirnya saya menanyakan Adrian bahasa jepangnya “saya minta paketnya diantarkan ke rumah”.  Awalnya saya memastikan dulu ke Adrian mengenai cara untuk ke kantor pos dan kemungkinan bisa diantarkan ke rumah atau tidak. Adrian bilang, bisa diantar ke rumah, dan telpon kita akan dijawab oleh mesin penjawab. Tinggal ngomong aja, “saihaitatsu wo onegashitai,” lalu bilang alamatnya dan mau diantar jam berapa. Adrian juga bilang, kalau mau dibantu buat nelpon juga gapapa.

Daripada kenapa-kenapa terus paketnya tidak sampai, akhirnya saya minta tolong Adrian. Tapiiiiii…, pas Adrian yang nelpon, kantor posnya sibuk terus. Kalau begini, mau tidak mau saya yang nelpon.

Ok, pertama nyoba, masih juga sibuk. Kedua kali, tersambung, tapi langsung saya matikan, karena saya belum nyiapin mau ngomong apa dalam bahasa jepang. Gubrak!!! Ketiga, tarik napas, tekan tombol dial, dan tersambung!!

Suara di seberang sana, jelas bukan suara mesin penjawab, suara seorang wanita yang ceria, nyerocos panjang lebar yang intinya: “disini kantor pos, ada yang bisa dibantu?”

“ Ettooo….saihaitatsu wo onegaishitaindesuga…” ujar saya, patah-patah.

Begitu mendengar saya ngomong bahasa jepang, langsung saja dia nyerocos panjang lebar, dan begonya saya balas dengan “hai” dan “hai”, seolah-olah mengerti.

Lalu saya bingung, begitu ditanya yang aneh-aneh. Sebenarnya ga aneh-aneh banget sih, dia nanya no paketnya berapa? Lalu kapan sampainya? Dari mana paketnya? Tapi karena dia ngomong dengan kecepatan cahaya, saya tambah bingung, dan dia juga bingung kenapa dia tanya A, saya jawab B?

“ Nihongo sukoshi wakarimasu,” kata saya, pasrah.

Pantesaaaaaaan, gw ngomong apa, lu jawab apa, mungkin itu kata mbak-mbak kantor pos di ujung sana. Wakakakakaka…

Akhirnya dengan sedikit perjuangan, dicapailah kata mufakat bahwa paketnya akan diantar besok, antara jam sepuluh sampai jam satu siang.

Esoknya…

Jam sepuluh saya sudah duduk manis sambil internetan, menunggu pak pos atau bu pos membawa paket saya. Sejam berlalu, tidak datang juga. Saya mulai gelisah. Memang hari ini sensei tidak datang ke lab, tapi tetap saja, biasanya saya paling lambat datan kekampus jam setengah 11, sekarang sudah jam 11 lebih. Meskipun di lab tidak ada kerjaan selain baca jurnal, sama foto-foto kultur bakteri, tapi tetap saja ga enak rasanya kalau datang siang sekali.

Jam setengah 12, belum datang juga. Akhirnya saya gambling. Saya ke kampus dulu, minimal setor muka, sudah itu balik ke apato. Setidaknya saya datang tidak siang-siang banget (setengah 12 ga siang???). Lalu saya akan ninggalin laptop dan tas yang menunjukkan saya sudah datang. Maka dengan terburu-buru dan berdoa semoga pak pos atau ibu pos tidak datang saat saya pergi, saya pun berangkat ke kampus.

Sampai di kampus, saya langsung menghidupkan laptop, ngeprint jurnal, dan berlari kembali ke apato. Hati saya berdesir ketika di depan apato ada pak pos dan motornya. Saya langsung menghampiri beliau dan bertanya apa ada paket buat saya? Dengan nihongo patah-patah tentunya. Hehehehe…

Namun ternyata tidak ada. Katanya kalau paket, yang ngantar naik mobil, bukan motor kayak beliau tersebut.

Sedikit kecewa, saya pun kembali menunggu di apato. Jam satu hampir tiba, namun paket belum datang juga. Bagaimana ini? Jepang kan terkenal on-time? Kok udah mau menit-menit terakhir tidak datang-datang juga???

Karena tidak sabaran, saya segera menyusun kalimat untuk menanyakan kejelasan paket saya, saya tekan tombol dial, dan terdengar suara mbak-mbak petugas kantor pos yang ceria menyambut saya.

“Nihongo sukoshi wakarimasu,” kata saya langsung, biar ga berbelit-belit seperti kemarin.

Si mbak mengerti, lalu dia ngomong dalam bahasa jepang level 4 Noryokushiken, hehehehe…

“ Baiklah, paketnya akan diantar antara jam 7 sampai jam 9 malam ini,” kata mbak-mbak kantor pos, masih tetap ceria.

Heeeeeee???? Jadi belum dianter dan masih di kantor pos? Jadi buat apa saya nunggu selama ini??? Ato jangan-jangan saya salah mengartikan shichi ji (jam 7) dengan ichi ji (jam 1)???? Masa siiiiih???

Antara kesal karena penantian saya selama ini sia-sia, dan lega karena saya ga perlu was-was menunggu, saya langsung bersiap-siap untuk kembali kekampus. Namun, ketika hendak pakai sepatu, ada ketukan di pintu, ternyata Zener. Yasudah, akhirnya kita ngobrol-ngobrol dulu di luar.

Ketika sedang ngobrol-ngobrol, seorang bapak tua dengan topi berlambangkan kantor pos datang membawa paket berbungkuskan kertas kado gambar hati. Dan spontan saya langsung….

“ Aaaa…watashi desuka??”

Si Bapak langsung noleh dan melihat saya. “ Nilna Amelia-san desuka?”

Saya mengangguk semangat. Tanpa ba bi bu, saya langsung menulis nama di lembar yang diberikan Pak Pos dan… “ Hai, douzo…anata no nimotsu desu.”

Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!! Sampai jugaaaaaaaaaa….!!!! Alhamdulillah.

Lalu Zener bilang, “untung saja lu belum pergi.”

Hahahahahaaa…iya, untung sajaaaaaaaaa saya belum pergi ke kampus, untung saja saya sudah ke kampus dulu tadi, untung saja paketnya utuh dan untung saja paketnya tiba saat makanan di kamar saya menipis… hahahahahahahaaaa… senangnyaaaaaaaa… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s