Sekolah Jepang dan Sekolah Indonesia

Dear diary,

Tadinya saya mau ngepost tentang hal-hal yang saya kagumi dari orang Jepang, tapi langsung berubah pikiran saat tadi pagi keluar rumah. Yup, rekor saya paling pagi dalam sebulan ini pecah hari ini. Biasanya saya ke kampus jam 10 pagi atau paling siaaaang bangeeet jam 10 mepet ke jam 11. Namun hari ini, karena ada presentasi teman-teman S1 di lab saya jam 08.40, saya menjejakkan kaki keluar apato jam 08.30. Paling pagi nih, sejak saya lulus S1, bahkan pas kerja di jakarta saja saya selalu datang jam 09.00 (bangga?).

Dan baru saya ketahui, sodara-sodara, ternyata jam 08.30 itu banyak anak-anak SMA (atau SMP) yang baru keluar stasiun dan berjalan kaki menuju sekolah mereka yang letaknya kira-kira 100 meter dari apato saya. Begitu melihat mereka, langsung terlintas di pikiran saya untuk membuat postingan ini.

Yup, gara-gara mereka, saya langsung kepikiran buat melihat beberapa perbedaan sekolah di Jepang dan Indonesia.

Sebelumnya mari kita sama persepsi dulu. Sekolah yang saya maksud disini adalah hal-hal yang meliputi sistem edukasi, mulai dari SD sama kuliah, secara random, dan dari kacamata (walopun sebenarnya saya ga berkacamata) saya sendiri. Beberapa adalah opini saya, namun beberapa lagi adalah hasil buah perbincangan saya dengan teman-teman, dan hasil baca-baca (baca apa aja yang bisa dibaca).

Oke, lebih enaknya dibuat tabel dapat dilihat di Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan “sekolah” Jepang dan Indonesia

Jepang

Indonesia

Sejak SD, siswa dilatih untuk mandiri. Contohnya ke sekolah sendiri, tidak diantarin orang tua.

Relatif masih manja, saya sendiri pas SD sering nebeng ayah untuk berangkat sekolah, malas gitu mau jalan kaki.

Di SD, biasanya jam makan siang makan bersama, makanan dibagikan oleh grup piket. Otomatis, (mungkin) bisa menghemat uang jajan.

Jam makan siang, ya jajan dooong… Ada bakwan, mpek-mpek, risoles, mie goreng, kerupuk. Uang jajan, minta ke orang tua.

Untuk anak SD, tidak boleh mengenakan perhiasan seperti anting-anting, cincin, dan kalung. Saya kurang tahu untuk SMP dan SMA, mungkin tidak boleh juga kali ya..

Kayaknya ga masalah pakai perhiasan, apalagi anting-anting. Asal tidak mencolok dan tidak terlalu mahal. Masa iya anak SD pakai kalung berlian ke sekolah, rek kamana atuh neng?

Kelas 1 dan 2 SD intinya belajar sambil bermain. Belajar IPA dan IPS langsung praktek. Misalnya seperti menanam bunga untuk IPA. Lalu belajar bersosialisasi seperti piket, sopan santun untuk IPS.

Dari kelas 1 udah dijejal bermacam-macam pelajaran. Belajar di kelas melulu. Mungkin ini yang membuat anak-anak SD malas ke sekolah.

(saya dulu begitu soalnya…kadang-kadang hujan sedikit malas sekolah. Anak baik tidak boleh meniru ini yaaaa) ^^

Rata-rata jam sekolah dari pukul 09.00 sampai 16.00.

Rata-rata jam sekolah dari pukul 07.00 sampai 13.00.

Seragamnya bervariasi, mulai dari pakaian sailor sampai blazer.

(Saya yakin banyak anak perempuan Indonesia yang pengen bangeeet bisa ke sekolah pakai seragam seperti di manga, anime atau dorama)

Seragam monoton, atas putih bawah kalo ga merah, biru, ya abu-abu. Mentok-mentok motif kotak

(tapi kalo pakai blazer juga lebay sih…secara Indonesia panas gitu…)

Semakin tinggi jenjang pendidikan, untuk seragam putri, semakin pendek roknya.

(Kalo musim dingin, ga dingin apa ya?)

Semakin tinggi jenjang pendidikan, untuk seragam putri, semakin panjang roknya.

(Alhamdulillah, sekarang kebanyakan SMA negeri sudah melegalkan pemakaian rok panjang baik yang berjilbab maupun tidak)

Sepatu sekolah relatif seragam, pantofel hitam. Jadi kelihatan necis (menurut saya pribadi).

Sebenarnya sih disuruh pakai hitam juga. Tapi ada strip warna warni boleh lah. Pakai sepatu warna lain juga boleh, asal ga ketauan guru BP. Biar gaya gitu lowh…

Lagian nyari sepatu yang warnanya hitam semua kan susaaah *pengalaman pribadi.com*

Di jenjang sarjana, mahasiswa masuk ke lab pada tingkat 4 dan selama setahun fokus untuk penelitian saja, tidak ada perkuliahan.

Biasanya mahasiswa mulai masuk ke lab pada tingkat 3 atau 4, tetapi masih ada beberapa perkuliahan.

Biasanya, ketika lulus dari bangku kuliah (baik S1 ataupun S1 maupun S3), mahasiswa sudah mempunyai tujuan jelas akan melanjutkan kemana. Jika bekerja, kebanyakan mereka sudah mendapatkan kontrak untuk bekerja di suatu perusahaan, jika kuliah, mereka sudah dapat kepastian untuk kuliah dimana.

Biasanya setelah lulus, masih bingung mau kerja, kuliah, atau nikah. Hehehehe…

Tapi ga semuanya begitu kok, banyak juga yang sudah tau mau ngapain tapi masih dalam pencarian, dan benar-benar sudah dapat kerja atau kuliah lagi.

Untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi (S2) hal terpenting adalah mendapatkan pembimbing, baru ujian.

Untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi (S2) hal terpenting adalah lulus ujian, kuliah, baru dapat pembimbing.

Saya mencantumkan perbedaan-perbedaan di atas bukan berarti menunjukkan yang satu salah, dan yang satunya lagi benar. Adanya perbedaan karena memang adanya kultur yang berbeda. Tapi bukan berarti pula kita membuat excuse dengn hal-hal yang mungkin seharusnya kita bisa, tapi tidak kita lakukan. Seperti kata Puri, teman saya, di komen postingan kemarin, hal yang baik harus diambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan hal yang tidak baik dijadikan feedback ke diri kita sendiri untuk evaluasi pribadi, apakah kita bisa lebih baik? atau ternyata kita lebih buruk?

Cheers!

Nilna Amelia

Jepang

Indonesia

Sejak SD, siswa dilatih untuk mandiri. Contohnya ke sekolah sendiri, tidak diantarin orang tua.

Relatif masih manja, saya sendiri pas SD sering nebeng ayah untuk berangkat sekolah, malas gitu mau jalan kaki.

Di SD, biasanya jam makan siang makan bersama, makanan dibagikan oleh grup piket. Otomatis, (mungkin) bisa menghemat uang jajan.

Jam makan siang, ya jajan dooong… Ada bakwan, mpek-mpek, risoles, mie goreng, kerupuk. Uang jajan, minta ke orang tua.

Untuk anak SD, tidak boleh mengenakan perhiasan seperti anting-anting, cincin, dan kalung. Saya kurang tahu untuk SMP dan SMA, mungkin tidak boleh juga kali ya..

Kayaknya ga masalah pakai perhiasan, apalagi anting-anting. Asal tidak mencolok dan tidak terlalu mahal. Masa iya anak SD pakai kalung berlian ke sekolah, rek kamana atuh neng?

Kelas 1 dan 2 SD intinya belajar sambil bermain. Belajar IPA dan IPS langsung praktek. Misalnya seperti menanam bunga untuk IPA. Lalu belajar bersosialisasi seperti piket, sopan santun untuk IPS.

Dari kelas 1 udah dijejal bermacam-macam pelajaran. Belajar di kelas melulu. Mungkin ini yang membuat anak-anak SD malas ke sekolah.

(saya dulu begitu soalnya…kadang-kadang hujan sedikit malas sekolah. Anak baik tidak boleh meniru ini yaaaa) ^^

Rata-rata jam sekolah dari pukul 08.00 sampai 16.00.

Rata-rata jam sekolah dari pukul 07.00 sampai 13.00.

Seragamnya bervariasi, mulai dari pakaian sailor sampai blazer.

(Saya yakin banyak anak perempuan Indonesia yang pengen bangeeet bisa ke sekolah pakai seragam seperti di manga, anime atau dorama)

Seragam monoton, atas putih bawah kalo ga merah, biru, ya abu-abu. Mentok-mentok motif kotak

(tapi kalo pakai blazer juga lebay sih…secara Indonesia panas gitu…)

Semakin tinggi jenjang pendidikan, untuk seragam putri, semakin pendek roknya.

(Kalo musim dingin, ga dingin apa ya?)

Semakin tinggi jenjang pendidikan, untuk seragam putri, semakin panjang roknya.

(Alhamdulillah, sekarang kebanyakan SMA negeri sudah melegalkan pemakaian rok panjang baik yang berjilbab maupun tidak)

Sepatu sekolah relatif seragam, pantofel hitam. Jadi kelihatan necis (menurut saya pribadi).

Sebenarnya sih disuruh pakai hitam juga. Tapi ada strip warna warni boleh lah. Pakai sepatu warna lain juga boleh, asal ga ketauan guru BP. Biar gaya gitu lowh…

Lagian nyari sepatu yang warnanya hitam semua kan susaaah *pengalaman pribadi.com*

Di jenjang sarjana, mahasiswa masuk ke lab pada tingkat 4 dan selama setahun fokus untuk penelitian saja, tidak ada perkuliahan.

Biasanya mahasiswa mulai masuk ke lab pada tingkat 3 atau 4, tetapi masih ada beberapa perkuliahan.

Biasanya, ketika lulus dari bangku kuliah (baik S1 ataupun S1 maupun S3), mahasiswa sudah mempunyai tujuan jelas akan melanjutkan kemana. Jika bekerja, kebanyakan mereka sudah mendapatkan kontrak untuk bekerja di suatu perusahaan, jika kuliah, mereka sudah dapat kepastian untuk kuliah dimana.

Biasanya setelah lulus, masih bingung mau kerja, kuliah, atau nikah. Hehehehe…

Tapi ga semuanya begitu kok, banyak juga yang sudah tau mau ngapain tapi masih dalam pencarian, dan benar-benar sudah dapat kerja atau kuliah lagi.

Untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi (S2) hal terpenting adalah mendapatkan pembimbing, baru ujian.

Untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan lebih tinggi (S2) hal terpenting adalah lulus ujian, kuliah, baru dapat pembimbing.

8 thoughts on “Sekolah Jepang dan Sekolah Indonesia

  1. 1. anak sd????? sekolah yang mana? yang aku tahu anak tk. depan apato

    2. di jepang kaos kaki putri ada gambar playboy, di indo paling jika tidak polos ada tulisan nama skul.

    3. untuk seragam di indo udah mulai bervariasi lagi. kadang2x gue bingung kok sekalinya keluar baju seragam ada 3 macam:p ada yang pakai rompi gitu.

    4. di indo, yang dilihat dari hp adalah berapa mahalnya tuh hape. di jepang berapa banayk gantungan yang segede gaban tergantung di hpnya (pendapat pribadi)

    5. di jepang olahraga di skul di ekspose, di indo kaga. (bener nda sih)

    • 1. maksudnya apa? ga ngerti gw…mengenai anak SD, saya dapat informasinya dari ibu khairuman dan ibu-ibu lainnya yang menyekolahkan anaknya di SD Jepang

      2. Untuk seragam sekolah, memang udah mulai variasi. Biasanya sekolah swasta, di Bandung ada yang pakai seragam sekolah dengan rompi dan rok kotak-kotak. Belum ada yang pakai pakaian sailor (ngapain juga coba…)

      3. Kaos kaki saya tidak ada nama sekolah tuh, dari jaman TK sampai SMA, kuliah apa lagi… memang ada beberapa sekolah yang menyediakan kaos kaki untuk seragam…tapi sekolah yang pernah saya masukin ga ada yg nyediain.

      4. no comment

      5. ga juga, zen. beberapa ada yang mengekspos olahraganya kok. kadang-kadang suka ada turnamen di daerah masing-masing, banyak anak grup SMA yang terlibat. Tapi memang tida se-luar biasa koshien Jepang. Tapi ada kok diperhatiin.

  2. Kalau seragam di Jepang hanya utk anak SMP dan SMA aja, kalau SD hanya yg swasta aja yg ada seragam. Dan tiap sekolah berbeda seragamnya. Tapi tiap hari selalu pake seragam yg sama.

    Hanya sekedar menambahkan ^_^

  3. dear nilna,

    tapi satu hal yang ingin sangat saya tiru dari jepang adalah sifat ON TIME nya..semua menggunakan waktu yang sama…
    *puri yang sedang proses belajar ontime ketemu orang*….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s