Jepang dan Bahasanya

Dear diary,

Hari ini rekor baru terpecahkan!!! Rekor menjadi orang pertama yang datang ke lab hari ini! Huahahahaahaaa… Bangga luar biasa begini saya, padahal sampai lab ujung-ujungnya fesbukan (duuuh!!)

Saya tidak mau membahas proses datang pertama dan keadaan lab saat sepi, karena ga gitu penting. Yang saya mau membahas disini adalah Jepang dan bahasanya.

Kita semua sudah tahu bahasa sehari-hari orang Jepang adalah bahasa Jepang, bukan Bahasa Prancis atau Spanyol, karena Jepang ga pernah dijajah Prancis dan Spanyol. Bukan pula bahasa Inggris, dan bukan pula bahasa Indonesia, dan juga bukan Bahasa Swahili.

Oke, makin lama makin tidak penting.

Bahasa Jepang punya tiga jenis aksara, kanji, hiragana, dan katakana. Aksara Kanji Jepang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan China, karena memang asalnya juga dari Negeri Tirai Bambu tersebut. Dalam setiap huruf kanji terdapat filosofi tersendiri yang menggambarkan arti dari kanji tersebut. Lalu ada hiragana, turunan dari kanji, aksara yang lebih mudah untuk ditulis. Selanjutnya ada katakana. Lain halnya dengan kanji dan hiragana, katakana dipakai untuk penulisan kata serapan, seperti kata serapan bahasa inggris ataupun untuk penulisan nama yang bukan dalam kanji, seperti nama orang asing.

Orang Jepang relatif lebih senang membaca dalam tiga aksara tersebut dibandingkan dengan aksara dalam bentuk alphabet (romanji). Jadi, kalau datang ke Jepang, jangan harap bakalan mudah menemukan nama toko atau pusat kegiatan lainnya dalam tulisan alphabet, kecuali penunjuk jalan yang memang ada tulisan romanjinya. Alasannya, mereka lebih mudah membaca huruf-huruf kanji, hiragana dan katakana dibandingkan dengan huruf romanji. Serta (menurut saya) mereka lebih bangga akan bahasanya.

Disini saya katakan bangga, bukan berarti mereka tidak bisa bahasa Inggris. Mereka bisa. Saya sering melihat teman-teman di lab membaca jurnal ilmiah dalam bahasa Inggris, lalu sensei-sensei saya di Ichikawa dan okasaan (ibu kost) di Ichikawa dulu maupun disini bisa berbahasa Inggris. Bahkan teman lab saya, Okado-san cukup fasih dalam melafalkan bahasa Inggris.

Ya mereka bisa, apalagi untuk akademisi, mereka pasti bisa. Kalaupun bukan akademisi, mereka pasti bisalah untuk bahasa Inggris sehari-hari, minimal mereka mengerti apa yang diomongkan, tetapi tidak terlalu fasih untuk menjawab dalam bahasa Inggris juga. Mereka lebih nyaman menggunakan bahasa jepang mereka dibandingkan bahasa lain (Inggris) untuk berbicara dengan orang asing. Selain itu perlu digarisbawahi kalau orang asing berbicara kepada orang jepang dengan menggunakan bahasa jepang, mereka akan membalas dengan bahasa jepang juga, meskipun mereka fasih berbahasa inggris. Jadiii….kalau mau aman bertanya ke orang jepang, pertama-tama pergunakanlah bahasa inggris dulu, kalau mereka tidak bisa, baru pakai bahasa jepang.

Awalnya saya sering bingung, kenapa jarang sekali mereka menggunakan bahasa Inggris. Okelah kalau di lab, saya kan minoritas, jadi wajar saja kalau ngomong harus pakai bahasa jepang+bahasa tarzan, huehehe… Namun ketika saya pergi ke International Student Center, mereka juga tetap menggunakan bahasa Jepang dalam berkomunikasi, lalu untuk registrasi penduduk asing di city hall, pakai bahasa jepang juga. Kemudian untuk pengurusan visa, bahasa jepang juga. Dan minggu lalu saya sempat kewalahan ketika mengurus administrasi untuk S2 karena bapak-bapak admission center-nya meracau dalam bahasa jepang tingkat tinggi.

See, padahal semua tempat itu berhubungan dengan orang asing, dan mereka masih menggunakan bahasa Jepang.

Menyebalkan memang, saya sampai misuh-misuh sendiri. Kok tempat-tempat seperti ini pada ga pakai bahasa Inggris, jelas-jelas muka saya muka impor, masih juga pakai bahasa Jepang. Tapi ternyata saya ketahui, bukan Jepang saja yang seperti ini. Ternyata Jerman dan Perancis juga. Mereka lebih senang menggunakan bahasa mereka sendiri untuk berinteraksi dengan orang asing. Kata teman saya, Peter, di Perancis lebih parah lagi, untuk keluar stasiun kamu harus tahu bahasa Perancisnya “keluar”, karena kamu tidak akan menemukan kata “exit” di stasiun tersebut.

Lalu saja juga ingat ketika teman saya bercerita tentang temannya dari Amerika datang ke Indonesia. Teman saya bilang, ” sorry, I can not speak english well.”

Si Amerika malah membalas, ” no, you don’t need to sorry, I am the one who need to sorry. Because I come to your country,  I feel ashamed for not speaking Indonesian fluently.”

Got the idea?

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Termasuk juga bahasa. Dimana kita tinggal, misalnya di Jepang, kita harus bisa bahasanya. Karena kita tidak bisa memaksakan warna di Jepang untuk harus bisa bahasa Inggris, tapi kita bisa memaksakan diri kita untuk harus bisa bahasa Jepang.

Ah, saya jadi malu sendiri, bahasa jepang saya kan masih abal-abalan. Malah makin kesini makin kacau. Padahal sebentar lagi test interview juga dalam bahasa Jepang. Hufff…nyesal juga, kalau tahu seperti ini, pas di Indonesia kemarin saya ngambil intensif les bahasa Jepang saja, dibandingkan main-main ga jelas. Sekarang nasi sudah jadi bubur, tinggal bagaimana aja bikin buburnya enak buat dimakan. Harus belajar lebih keras lagi nih biar bisa ngomong bahasa jepang dengan lancar.

Cheers!

Nilna Amelia

2 thoughts on “Jepang dan Bahasanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s