Cerita hari ini

Dear diary,

Baru semalam saya benar-benar tidak nyaman tidur sejak datang ke Fukui. Sedikit-sedikit bangun, saya sampai dua kali menyalakan heater. Biasanya sebelum tidur saya menyalakan heater selama kurang lebih setengah jam, lalu mematikannya sampai pagi menjelang. Tapi semalam, entah mengapa rasanya dingin sekali. Tiap heater mati secara otomatis, saya akan terbangun untuk menghidupinya kembali.

Ternyata, saya menemukan jawabannya saat membuka jendela kamar di pagi hari. Rupanya semalam salju turun lagi. Warna putih mendominasi pemandangan di luar kamar saya. Spontan saya langsung teringat dengan sepeda (pinjaman) saya. Ow yeah, pasti sekarang sudah bergelimang salju sepedanya, dan saya tidak bisa ke kampus pakai sepeda.

sepeda bergelimang salju

Oke, lupakan salju dan sepeda. Selesai sholat subuh, kepala saya terasa berat bukan main. Mata saya berkantung besar sekali. Tidak sanggup ngapa-ngapain, akhirnya saya (kembali) menghidupkan heater, duduk di depan heater, dan tertidur kembali.

Sukses tidur sampai pukul 09.00. Hohoho…langsung berasa segar bugar.

Untung saja, di lab saya tidak ada harus masuk jam segini, pulang jam segini. Jadi bebas aja, kalau ga tau malu, datang pukul 15.00 juga tidak apa-apa. Hehehe… Siap-siap ternyata menghabiskan waktu sejam, pukul 10.00 teng! Saya berangkat ke kampus dengan menggunakan sepatu converse ungu kebanggaan saya.

Dan sepatunya sukses besar basah. Ya iyalah, saljunya tebal begitu. Sekali dilewatin, sepatu saya langsung ngejeblos, akibatnya basah deh. Tapi saya keukeuh tetap makai sepatu converse itu, bukan boots saya, kenapa? Soalnya ga matching euy kalau pakai boots. Masalahnya celana saya hijau jeans, baju kotak-kotak hitam putih abu-abu, jilbab putih. Kalau pakai boots coklat kan ga matching. Emang matching ya pakai sepatu ungu?

Beralih ke sepatu, siang tadi untuk pertama kalinya saya latihan interview dengan sensei. Kalau dipikir-pikir sensei perhatian sekali ya? Ga cuma yang mau sidang saja disuruh latihan depan beliau, saya yang mau interview 5 menit juga disuruh latihan depan dia. Nanka, ureshii da…

Oke, latihannya seperti ini. Saya disuruh menunggu di meja saya. Lalu tiba-tiba Okado-san menggeser pintu ruangan dan berkata keras-keras dan berkata, “ Tsugi no hito wa, Niruna Ameria-san, douzo!

Nani sore??? Harus segitu ya? Sampai harus ada proses pemanggilannya? Wakwaaaw…

Saya langsung berdiri dan masuk ke ruangan yang biasa dipakai penghuni lab buat latihan presentasi. Di dalam sudah ada sensei yang menanti.

Jikken bangou wo oshite kudasai,” kata sensei, artinya tolong sebutkan nomor ujianmu.

He?” gaya bloon saya keluar.

Motte inai?” tanya sensei, tidak bawa? Saya mengangguk.

Ja, ima sugu ni motte kite,” pinta beliau supaya saya segera mengambil kartu ujian saya.

Buset dah, sampai prosedur awalnya juga dibuat latihan. Subarashii! Hahahaha…

Saya langsung buru-buru mengambil kartu ujian saya dan kembali ke ruangan ujian. Sekali lagi sensei menyuruh saya untuk menyebutkan nomor ujian saya. Saya menyebutkannya dengan menggunakan bahasa jepang. Suara saya rasa-rasanya kayak kucing kejepit (lebay.com).

Selanjutnya sensei menanyakan kenapa mau sekolah di Jepang. Saya menjawab dengan bahasa Jepang patah-patah, sensei hanya mengangguk angguk sambil tersenyum. Ga tau deh maksud senyumnya apa, apakah ngerti atau apalah…

Sebenarnya sensei juga bingung dengan pertanyaan apa saja yang kira-kira muncul. Namun ada tiga hal yang pasti: kenapa sekolah di Jepang? Tema penelitiannya apa? Lalu ada uang buat bayar sekolah?

Itu yang pasti, yang ga pastinya kira-kira seputar bagaimana hidup di Jepang, lalu kebiasaan orang Islam bagaimana? Bagaimana sholat disini? Dst dst…Maksimal 5 menit.

Pas sensei bertanya tentang bagaimana kamu sholat kalau pas jam sholat lagi ada kelas?

Pertama saya jawab dalam bahasa Jepang, “ daijoubu to omoimasu…” saya pikir tidak masalah. Lalu saya bingung nerusinnya gimana, jadilah putar haluan menjadi bahasa Inggris, “ I will scheduling my time, so classes do not become burden for me to take a pray,” ribet lah ngomongnya, diliat-liat sensei ga ngerti nih, jadi aja ganti jalur ke bahasa jepang lagi, “ hima no toki wa, oinorishimasu,” kata saya akhirnya, mentok.

Sensei langsung ketawa. “ Nihongo wo dekinakereba, eigo mo ii, tabun daijoubu,” kata sensei. Intinya kalau ga bisa jawab bahasa jepang, bahasa inggris juga gapapa. “ Sore ja, owarimasu. Anata wa daijoubu to omou.

Intinya, sensei pikir saya bakalan sukses interviewnya. Amieeeeeeen….

Watashi wa, nihonggo de hanasu koto wa isshoukenmei renshushimasu,” kata saya, berusaha lebih meyakinkan sensei.   Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk latihan berbicara dengan bahasa jepang.

Sekali lagi, sensei hanya tersenyum. Huhuhu…orang Jepang demen banget senyum, jadi ga tau apa yang dipikirin sama mereka…semoga yang baik-baik saya >.<

Cheers!

Nilna Amelia

3 thoughts on “Cerita hari ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s