Sayonara, Sasa…

Dear diary,

Saat selesai Sholat Isya, hp dengan nomor Indonesia saya berbunyi, lagu NEWS-Best Friend melantun riang. Ah, paling dari Telkomsel atau AXA Mandiri, pikir saya sambil malas meraih hape hitam tersebut.

Klik, wallpaper bergambar donat muncul dan tampilan pesan diterima terbaca, ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Siapa lagi nih?

(Masih) dengan malas-malasan saya membuka smsnya, pas ngebuka loading agak lama (maklum, kebanyakan sms), lalu isi sms pun tertera di layar.

Deg!

Saya langsung speechless ketika membacanya, sempat terdiam sampai beberapa menit. Isi pesannya mengabarkan, teman SMA saya, Elisabeth Niken Sasanti atau yang biasa dipanggil Sasa atau Cencen telah tiada.

Almarhumah Sasa adalah teman sekalas saya pas kelas 2. Kita sama-sama di kelas 2-10, kelas paling ujung di lantai tiga, dengan ruangan yang dindingnya berwarna biru dan bergambar bintang-bintang kuning.

Sasa adalah sosok perempuan pintar. Pintar di atas rata-rata. Setelah lulus SMA, Sasa keterima di FKU UI. Meskipun pintar, Sasa tidak pernah merasa dia pintar. Perangainya ceria, sederhana, dan sangat bersahabat. Ga heran Sasa dekat dengan semua teman-teman sekelas, ga yang pendiam, ga yang paling heboh di kelas. Semua senang dengan dia. Bahkan anak laki-laki 2-10 yang biang meriah di sekolah senang mengobrol dengan dia. Mereka juga memberikan nama panggilan Sasa yang baru, Cencen. Cencen sendiri diambil dari nama tokoh wanita di serial Taiwan, Meteor Garden, San Cai. Karena Sasa mirip San Cai, meskipun dengan postur yang lebih subur. Tapi dipelesetin anak-anak jadi Cencen.

Sebenarnya, berita tentang sakitnya Sasa sudah dari minggu lalu saya dengar. Itu pun dari notes teman saya yang ga sengaja saya baca ketika melawat ke profilenya. Dalam notes yang ditulis teman saya, Narumi, Sasa dikabarkan telah dirawat selama 1 bulan di RS Borromeus Bandung, dengan keluhan demam dan sesak yang tak kunjung membaik dengan diagnosis awal SLE (Lupus). Karena keluhannya tidak membaik, akhirnya Sasa diterbangkan ke Singapura masih dalam keadaan sesak dengan efusi pleura (penumpukan cairan di rongga paru), penurunan fungsi hati dan fungsi ginjal.

Hari jumat malam tanggal 5 Maret 2010, Sasa mengalami gagal nafas karena perdarahan paru, saat ini masih dalam perawatan ICU dengan alat bantuan napas (ventilator), menjalani terapi plasma faresis dan cuci darah.

Itulah kabar terakhir dari mengenai Sasa sebelum SMS dukacita tadi saya terima. Teman-teman di Indonesia baik dari SMA 3 maupun FKU UI sedang melakukan penggalangan dana untuk biaya pengobatan Sasa, namun ternyata Sasa sudah lebih dulu meninggalkan kita semua.

Dan saya menyesal tidak sempat berbuat apa-apa. Bahkan saya kehilangan nomor kontak Sasa selepas lulus SMA. Kami tidak pernah kontak-kontakan lagi.

Padahal dulu Sasa sering mengobrol dengan saya. Sasa sering duduk di belakang saya, dengan senyum cerianya dia mengajarkan kepada saya soal-soal Fisika, Kimia, Matematika yang tidak saya mengerti.

Sasa juga senang anime dan manga, makanya saya dan teman sebangku saya, Tasya, nyambung banget kalau mengobrol anime atau manga terbaru jaman itu.

Sasa tidak pernah marah, meskipun anak laki-laki sering menggodanya. Sasa tidak pernah mengeluh tentang apapun. Senyum ceria Sasa selalu terhias di wajahnya yang bulat.

Sekarang Sasa sudah tidak ada. Sasa sudah pergi jauh meninggalkan kita semua.

Sasa, maafkan saya yang tidak sempat memberikan apa-apa untukmu.

Saya berharap semoga dirimu bahagia disana.

Selamat beristirahat, Sasa.

My deep condolences,

Nilna Amelia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s