Dokter gigi di Jepang

Dear diary,

Sejak dua hari yang lalu, saya kalo makan kerasa ga enak. Bukan, bukan karena makanannya ga enak. Secara gitu saya hanya punya dua rasa untuk makanan: enak dan enak sekali. Sejak beberapa hari yang lalu ada masalah di gigi saya. Saya punya empat gigi graham bungsu yang ga bisa nongol dengan sempurna gara-gara gusi saya ga cukup menampung kapasitas gigi. Hahahaha. Keempat gigi ini tersebar merata di bagian atas dan bawah, kanan dan kiri. Dua gigi graham di bagian bawah sudah dicabut dengan sukses di Bandung. Dua lagi, karena saya malas, malas disuntik, malas bengkak abis dicabut, malas bayar dokter gigi, belum saya cabut sampai sekarang.

Lagian belum sakit-sakit amat, pikir saya, dulu.

Nah, dulu emang ga sakit. Lama-kelamaan tu gigi nongol sedikit demi sedikit, dengan posisi miring dan menabrak dinding mulut saya. Akibatnya kalau saya makan, kan otomatis ada gesekan antara gigi miring itu dengan dinding mulut. Tau sendiri, gigikan benda keras dan tajam, ya lukalah dinding gigi saya. Karena saya makan terus (ya iyalah!) jadi itu luka ga sembuh-sembuh.

Dan kemarin malam puncaknya, makan sedikit langsung senut-senut. Akhirnya saya menyerah. Pagi tadi saya ke dokter gigi di dekat apato. Sudahlah, kalo dicabut cabut aja, daripada nelangsa. Udah tinggal sendirian, sakit gigi, makan ga enak, waaaah tambah merana aja itu mah.

Pagi-pagi, pukul 09.00, saya ke dokter gigi. Seperti kayak di rumah-rumah Jepang, begitu masuk, kita harus ngelepas sepatu kita, dan ganti dengan sandal rumah. Trus saya disuruh ngisi formulir buat jadi pasien rutin di dokter gigi itu, dan menunjukkan asuransi kesehatan yang disediakan pemda setempat. Udah deh disuruh nunggu.

Kalo di Indonesia, nunggu dokter gigi bisa sampe karatan, di Jepang cepet amat. Padahal saya nomor antrian ke empat, sebelum saya tiga orang nenek-nenek dan kakek-kakek.  Waaah, enak nih dokter gigi, cepet euy, kayak shinkansen, pikir saya.

Dan saya baru tau kenapa cepet, gara-gara di dalam ruangan dokternya ada empat kursi pasien. Empat-empatnya ditangani langsung oleh si dokter gigi secara paralel. Whoooaaa…pantesan aja cepet. Wong sekali dayung empat pulau terlewati. Hahahahaahahaha…

Dokternya ramah, ngeliat saya pakai Jilbab, beliau langsung cerita Bu Khairuman dan anak-anaknya yang juga langganan ke dokter gigi ini. Terus perlengkapan buat meriksa giginya baru, bukan baru dicuci. Tapi baru dari kemasan, alias benar-benar baru. Waaah, tiap pasien dapat yang baru begini, dalam sehari bisa ada berapa perlengkapan periksa gigi yang dibuang?

Yang paling saya suka, adalah ada tivi kecil di kursi periksanya. Jadi kita bisa nonton. Tapi jangan harap nonton HBO ya, tontonnya kereta api lagi menyisiri kebun bunga. Hahahahaha, ga seru tapi cukup menghibur. Terus rupanya si tivi bisa berubah jadi kamera begitu. Pas dokternya meriksa pakai alat yang ada kameranya, gambarnya bisa dilihat di tivi tersebut. Jadi kita bisa lihat keadaan gigi kita. Kalo belum gosok gigi bisa keliatan, ada jigong nyempil ato enggak. Hiiiiiy…

Dan ketika gambar gigi saya muncul, saya melihat memang ada luka di dinding mulut saya, dan cukup dalam juga. Huweee…pantes aja sakiiiit!!! Yaudah ini mah, pasrah aja kalau dicabut.

Rupanya eh rupanyaaaaa…, gigi saya ga dicabut, tapi dipotong. Jadi bagian gigi yang nusuk ke dinding mulut dipotong gitu. Bukan dipotong juga siiih..diapain ya namanya? Dikikis, ya kayak gitu lah. Terus habis itu saya disuruh pakai kacamata hitam. Heeee??? Ternyata ada bagian gigi atau dinding mulutnya yang dilaser. Hahahahaha…saya kayak man in black lagi tambal gigi (kebetulan saya pakai celana, jaket, dan jilbab hitam).

Abis itu, gigi saya diperiksa satu-satu oleh suster, sementara dokter giginya udah ngacir meriksa pasien yang lainnya.

Selesainya saya disuruh datang lagi minggu depan, dan untuk pemeriksaan perdana ini saya harus bayar 770 yen. Di bawah perkiran saya, yang saya pikir bisa ribuan yen. Alhamdulillah, untung ada asuransi kesehatan🙂

Cheers!

Nilna Amelia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s