KERAS

Dear diary,

Sudah lama saya tidak update blog ini. Padahal dulu ceritanya saya mau update tiap hari. Huhuhuhu…tampak tidak dapat terealisasikan. Sediiih…

Ternyata membuat blog  secara konsisten itu sulit, saya kira dulu itu pekerjaan yang mudah. Meskipun ga bisa update cerita, setidaknya bisa berbagi lewat jepretan kamera. Tapi tetep saja susah. Diperlukan ke-konsisten-an yang teramat tinggi untuk bisa menulis dengan teratur dan tetap menarik. Hmm.., tampak masih harus banyak belajar tentang dunia menulis.

Eniwei, kenapa saya hilang dari peredaran per-blog (kali-kali aja ada yang nyari saya lewat blog, wekekeke). Alasan utamanya adalah: KULIAH!!! Klise ya? Tapi seriusan! Dulu saya pernah mendengar dari seorang calon Doktor yang kerja di lembaga Eijkman Jakarta. Beliau kuliah di universitas top Jepang (kalo ga di Tokyo, di Osaka kali…lupa juga saya). Beliau bilang ke dosen saya: “waah, capek pak kuliah di Jepang, kerjaan di lab melulu, paling cepet juga pulang jam 10 malam…”

Waktu itu saya tingkat empat dan masih berpikir, masa sih, kan enak kuliah di Jepang, bisa ketemu Yamapi.

Benar-benar pikiran sempit seorang fangirl, bukan seorang mahasiswa yang tahun depan mau lulus >.<

Dan sekarang, memang terbukti perkataan mbak tersebut. Jangankan di Tokyo University ato kampus top lainnya. Kampus saya yang terletak di pinggiran Jepang, yang kebanyakan penduduknya kalo di Indonesia sudah punya KTP seumur hidup dan sangat-sangat laid back, tetep aja kuliah di kampusnya: KERAS!!

KERAS karena: bagi orang Indonesia yang hidup dengan ritme sedang (saya tidak bilang lambat), menyesuaikan diri dengan ritme kerja orang Jepang itu sulit. Kuliah pagi (okelah, paling pagi juga pukul 08.45) sampai jam 12 siang. Kalo dulu di Indonesia pukul 11 itu sudah jam istirahat sampai jam 1, disini tancap aja sampai jam 12. Nah habis jam 12 memang istirahat, kadang-kadang ga ada kuliah lagi. Tapi, jangan harap bisa pulang trus nonton dorama. Langsung masuk lab, makan juga di lab, ga pernah keluar lab (bahkan orang Jepangnya yang seharusnya bisa makan di luar pun memilih untuk makan sambil mengerjakan jurnal). Santai sedikit, sensei langsung datang menanyakan bagaimana progres penelitian (padahal baru sebulan juga masuk, penelitian udah jor-joran). Kehidupan di lab akan mulai menyantai ketika matahari sudah mulai turun. Tapi, kalo jam segitu masih harus ngambil data, jangan harap bisa santai-santai fesbukan. Kemudian, belajar buat pelajaran lain, intinya jam 9 bisa tenang pulang ke rumah (walopun saya suka kabur duluan pukul 7 ato 8). Sabtu Minggu? Jangan harap bisa santai-santai kalo ada data yang harus di analisis, dan hari rabunya jadwal dirimu presentasi. Selamat menongkrong di lab, di depan laptop dan membuat kata demi kata menjadi rangkaian bahasa Jepang yang bisa dimengerti oleh orang Jepang.

KERAS kedua: program saya sebagian besar mata kuliahnya bahasa Jepang. Saya harus berusaha survive selama dua tahun ini. Apalagi sensei saya tau saya bisa bahasa Jepang, jadi jarang sekali beliau menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi dengan saya. Pliiis atuh senseeeeei, saya kan bahasa Jepangnya cuma bisa untuk kehidupan sehari-hari seperti: ”mau kemana?” “lagi ngapain??” saya ga ngerti kalo udah ngomong: “larutan ini harus diencerkan dengan DW:metanol 15:85, kemudian itu bakteri di inokulasi di medium lalu dianalisis” dalam bahasa Jepang dan dengan laju 270km/hour. Belum lagi kalo presentasi pakai bahasa jepang, kuliah isinya kanji semua. KERRRRAAAAASSSSS!!!

KERAS lainnya: kalau hari libur, tidak ada kerjaan. tidak ada teman jalan. tidak ada yang menyenangkan. Selamat manyun di kamar, selamat meratapi nasib, dan jangan berpikir untuk ke Tojinbo….*kidding* kenapa Tojinbo? Nanti saya jelaskan di postingan selanjutnya. huehehehehe…

Oke, intinya, hidup di Tokyo itu Keras, di Osaka juga Keras, di Fukui pun Keras. Intinya hidup di Jepang Keras. Jadi mental orang-orang perantauan ke Jepang, yang kerja atau kuliah atau yang menikah dengan orang Jepang pun harus punya hati yang keras juga, yang kalo kesiram air sedikit atau kena angin sedikit ga langsung melempem. Mungkin buat teman-teman yang di negara lain, dan yang di Indonesia juga sama, karena semua hal itu hanya masalah sudut pandang kita. Kalau kita memandangnya kita bisa melaluinya, Insya Allah bisa. Yosha! Semangaat!!!

Kenapa juga postingan ini kayak ga beraturan. Tidak ada korelasi satu paragraf dengan paragraf lain. Maafkaaan, saya hanya mengikuti kemana jari saya bergerak :p

See you in the next posting!

Cheers!

Nilna Amelia

One thought on “KERAS

  1. nilna-san… aqhirny nuliz lg… lma saia taq mmbaca, jd ktinggalan, hueheheh9… apha kbar fukui??? spertiny sangat keras y khidupan dsana… jd kngen msa2 nyangsang qta stahun lalu, huehehhe9…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s