Golden Week

Dear diary,

Hari ini hari terakhir Golden week, sediiiiih….hahahahaha. Selalu ya, kalau libur itu terasa sekejap, tapi kalo kuliah atau kerja kerasa berjuta-juta tahun. Belum lagi ada tugas menggunung untuk esok hari, makin aja malas.

Pikiran diatas harus segera diubah!

Eniwei, saya tidak akan cerita tentang bagaimana besok. Biarkan besok menjadi hari yang lebih indah untuk diceritakan nanti. Amiiieeen… Sekarang saya mau bercerita tentang Golden Week saya yang pertama di Jepun.

Golden week? Apakah itu? Jadi Golden Week adalah libur tiga hari berturut-turut di Jepang pada awal bulan Mei. Yaitu pada tanggal 3 Mei yang merupakan hari Konsititusi (saya ga ngerti maksudnya apa), tanggal 4 Mei yang merupakan hari Hijau (masih ga ngerti juga), dan hari anak-anak pada tanggal 5 Mei. Meskipun ga ngerti makna kenapa ada libur ini, saya sebagai penduduk asing di Jepang ikut bersenang-senang atas libur panjang ini. Apalagi liburnya nyambung dari hari Sabtu. Jadi kita libur dari hari Sabtu sampai hari Rabu. Lumayan toh. Biasanya lima hari kerja, ini lima hari libur. Huahahahahahaa…

Mengenai golden week, saya pergi ke Kyoto dan Nagoya. Ke Kyoto pada hari Sabtu dan Minggu, lalu ke Nagoya pada hari Selasa kemarin. Kalau dipikir-pikir nekat juga saya, baru berapa bulan jadi mahasiswa Master disini sudah keliling kemana-mana. Tapi kesempatan ga akan datang dua kali kan? Jadi kalau ada kesempatan libur dan ada teman untuk pergi, kenapa tidak?

Mengenai Kyoto, ini kali keduanya saya ke kota yang merupakan Jogjakartanya Jepang. Kota yang sisi sejarah dan modernitasnya berdampingan. Situs-situs sejarah Jepang masih dipertahankan, namun modernnya Kyoto juga terus berjalan. Hari Sabtu lalu saya pergi ke Kyoto bersama Pak Munadi dan Zener. Sampai di Kyoto kita bertemu Andre yang dulu pernah kuliah di Fukui juga bersama temannya, Mas Fajar. Selama di Kyoto kami jalan-jalan ke Jinja di daerah Gion (lupa namanya apa, maafkaaan >.<), kemudian ke Kinkakuji Tower, lanjut ke Kiyomizudera, kemudina ke Fushimi Inari Shrine, dan pulang ke Fukui dengan berdesak-desakan.

Kesan jalan-jalan ke Kyoto: capeeeeeeeeeeeeeeek. Hahahahahaha….ga jarang kita harus lari-lari kesana kemari mengejar kereta, berdempet-dempetan di kereta dan bus, dan manjat-manjat bukit demi Kiyomizudera dan Fushimi inari sushi shrine. Puncak ke-tepar-an kita adalah ketika kita harus mendaki bukit Kiyomizudera dengan terburu-buru, kemudian jalan dari Kiyomizudera ke stasiun sekitar 1 kilo dengan lari-lari, dan mengitari serta memanjat bukit di Fushimi Inari sepanjang 4 km. Sampai rumah langsung tumbang. hahahahaa…

Meskipun demikian, saya tetap puaaas!!!! Sebab saya memang ingin menaklukkan Kyoto selama disini. Apalagi Fushimi inari shrine yang memang dari dulu jadi top list saya sudah dijelejahi. Hahahahaha, senangnyaaaaaaaaa….

Moral story kalo ke Kyoto: jangan pergi ke Kiyomizuderan dan Fushimi Inari Shrine dalam satu hari, dan jangan jalan-jalan pakai high heels😀

Selanjutnya ke Nagoya. Tujuan ke Nagoya beda dengan tujuan jalan-jalan ke Kyoto. Sebab di Nagoya ada tabligh akbar dengan mengundang Habiburrahman El Shirazy. Yup, pengaran Ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Karena saya suka sekali dengan novel beliau, maka saya bela-belain lah datang ke Nagoya bersama Mas Ali, Mas Agus, Mas Rusman, dan Mas Deni (sekali lagi jadi wanita sendirian, nasiiib nasiiiib nasiiib).

Meskipun hanya duduk dan mendengarkan saja, saya banyak dapat ilmu dari penjelasan Kang Abik (sapaan untuk Habiburrahman El Shirazy) mengenai cinta, pacaran, dan usaha. Salah satu perkataan beliau yang paling saya sukai adalah:

Usaha apapun yang kamu lakukan untuk Allah SWT, adalah langkah menuju surga

Berarti, jika kamu pelajar, setiap hari pergi ke kampus dan lab untuk belajar karena Allah SWT, maka Insya Allah setiap langkah yang kamu ambil adalah cicilanmu menuju surgaNya. Setiap kayuhan sepedamu untuk pergi ke lab, perjuanganmu di lab, perjuanganmu di kelas, dan semua perjuanganmu untuk Allah SWT, semuanya akan tercatat dan menjadi tangga-tanggamu menuju surga.

Indah bukan?

Saya jadi berpikir lagi, jika kita bisa meniatkan seperti itu 100%, maka kita tidak akan menganggap kuliah ataupun kerja itu adalah hal yang membosankan, dan libur adalah hal yang paling menyenangkan. Jadi, mari kita sambut hari esok dengan riang dan berniat dalam hati bahwa saya disini untuk belajar, untuk Allah SWT, untuk negara, untuk keluarga, dan untuk diri sendiri ^.^

Cheers!

Nilna Amelia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s