Gagal maning gagal maning

Dear diary,

Dari pengalaman saya selama sebulan kuliah, ternyata kuliah di Jepang benar-benar mengandalkan apa itu yang namanya penelitian. Bayangkan saja, baru juga sebulan saya sudah jadi romusha kerja di lab. Tiap hari kelabakan ngambil data dan sering berakhir dengan kekecewaan karena datanya tidak sesuai harapan. Hiks! Sementara abang saya yang di Jerman, tampak kuliahnya lebih menyenangkan. Jika tidak ada kuliah, pasti sudah langsung pulang ke rumah. Saya mah boro-boro, kalau pulang ke rumah sehabis kuliah, besok pasti dihadiahkan kerjaan berlebih.

Bukan saya saja yang seperti ini, teman-teman saya yang kuliah di kota lain di Jepang juga mengalami hal yang sama. Kerja rodi di lab. Mungkin bedanya, jika di Eropa dan Amerika lebih dititikberatkan pada kuliah di kelas, mahasiswa harus aktif dan presentasi dan sebagainya, di Jepang justru kuliahnya seperti di Indonesia, masih satu arah. Presentasi ada, tapi tidak sering. Bahkan kata teman-teman saya yang sudah lebih dulu mengambil program master disini berkata, kadang tidak ada ujian akhir, hanya laporan.

Kuliahnya sih enaaaak… Penelitiannya itu yang babak belur. Hahahahaa…

Lagian mana ada kuliah yang ongkang-ongkang kaki doang…Itu mah bukan kuliah namanya, deshou?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan yang namanya penelitian. Tiap hari juga bukan masalah, malah hari ini saya menikmati pekerjaan yang saya lakukan (tumben-tumbenan, padahal tadi pagi mau ngesot ke kampus aja malasnya luar binasa). Melakukan penelitian adalah hal yang menyenangkan. Kita meneliti hal yang kita tidak ketahui hasilnya. Jadi ketika kita menambahkan senyawa ke dalam suatu larutan, seperti sihir, akan terjadi perubahan. Nah, perubahan itu yang kita pengennya hasilnya bagus, dan sesuai harapan. Kalau perubahannya seperti itu, penelitian akan semakin menyenangkan. Namun, jika perubahannya ke arah yang tidak diharapkan, penelitian tersebut bisa jadi lebih menantang, bisa jadi tidak menyenangkan. Tergantung sudut pandang orang yang melakukannya.

Nah, sejauh ini penelitian saya belum menemukan titik terang yang jelas. Masih malang melintang di ketidakjelasan yang kadang-kadang membuat orang yang menelitinya juga ikut-ikutan tidak jelas. Hahahahaaaa…. Sampai saat ini saya selalu berpikir positif, bahwa: tidak ada noda, tidak belajar. Atau kata orang juga: Thomas Alfa Edison saja mengalami kegagalan berkali-kali hingga akhirnya menemukan lampu. Tapi bukan berarti harus gagal terus menerus kan? Justru kalau gagal di titik yang sama artinya itu keledai. Saya ga mau jadi keledai. Ga mau gagal terus-terusan. Saya pengen berhasil. Jadi, doakan saya yaaa…semoga penelitian yang saya lakukan semakin hari semakin menemui titik terangnya. Ammieeen…

Cheers!

Nilna Amelia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s