Hari Pahlawan, mengenang Datuk dan Opa

Dear diary,

Pagi hari, sebelum berangkat ke kampus saya membuka mivo tv dan dengan random menyetel tv one. Ternyata lagi membahas mengenai Museum Brawijaya dan rumah kediaman Jendral Soedirman. Dan saya baru sadar, sekarang tanggal 10 November, berarti sekarang hari pahlawan!

Mengingat hari pahlawan, saya pasti ingat kedua almarhum kakek saya. Semoga Allah memberikan mereka berdua tempat yang layak di sisiNya. Ayah dari ibu saya, biasa saya panggil Datuk. Bukan Datuk Maringgih ya! Datuk itu panggilan kakek buat orang Minangkabau.

Datuk dulu ikut perang, ikut bergerilya bersama ratusan pahlawan lainnya. Ibu saya pernah cerita, datuk pernah dikejar-kejar oleh pasukan Belanda di pedalaman Sumatera. Datuk merupakan pasukan Indonesia yang berperang di melawan Belanda di kawasan Sumatera Selatan hingga Bengkulu.

Almarhum Datuk, seorang pria yang taat kepada agama. Kenangan yang paling saya ingat adalah sholat subuh dan maghrib berjamaah setiap hari di Palembang. Lalu kami cucu-cucunya akan mendapat giliran membaca doa. Doa yang terus menempel di hati kami hingga saat ini.

Kenangan lainnya, saya pernah ikut datuk mengambil uang pensiun saat saya masih SD, berarti tahun 90-an. Uang pensiun itu tidak lebih dari Rp. 10.000. Tapi Datuk tidak mengeluh, sembari pulang dengan naik becak, ia menceritakan pengalamannya dan memberikan saya selembar Rp. 1000. Saya senang luar biasa.

Datuk menutup usianya pada tahun 2002. Saat itu saya di bangku SMA. Datuk dimakamkan secara militer di Makam Pahlawan di Palembang. Rumah terakhirnya bersebelahan dengan rumah terakhir para sahabat-sahabatnya yang dulu berjuang bersama, demi satu kata MERDEKA. Kami para cucu-cucunya ikut mengantarkan kepergiannya ke alam keabadian.

Kalau dari ayah saya, Almarhum Opa. Lain ceritanya dengan Datuk. Opa berjuang dengan cara yang lain. Ia belajar dari Belanda dan ikut membangun pabrik penyulingan minyak di beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya ialah Pabrik Pertamina di Dumai.

Opa jago berbahasa belanda, orangnya juga apik. Apiknya ini menurun ke ayah saya, tapi sepertinya tidak menurun ke saya. Huhuhuhuuu… Disiplin teramat sangat, mungkin karena didikan Belanda.

Hal yang paring menyenangkan ialah makan roti isi palmsuiker bersama Opa. Ini kenangan yang paling saya ingat, Opa mengajarkan saya dan abang saya bagaimana menghabiskan roti dua tangkup isi palmsuiker dalam dua kali gigitan.

Opa berpulang ke Rahmatullah saat saya duduk di bangku SMP kelas dua. Saya tidak ikut pemakaman beliau karena waktu itu saya sedang ujain kenaikan kelas. Opa dimakamkan di pemakaman keluarga di daerah Cikaret.

Datuk dan Opa, dua pria terbaik yang mengajarkan kami para anak cucunya, makna kemerdekaan, makna hidup, dan makna bersyukur. Meskipun mereka telah pergi mendahului kami, tapi kenangan itu akan tetap hidup di hati kami. Semoga segala kebaikan yang mereka lakukan, menjadi teman setia kehidupan mereka disana, dan semoga kami bisa berkumpul kembali, di dalam surga Allah SWT yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Amiien Ya Rabbalalamin.

Dedicated to: Datuk Anwar Sjarief dan Opa Soeeb Sa’ad

Selamat Hari Pahlawan!!

“Grandpa? Are you a hero?”
“No, but I served in a company of heroes.”
-Band of Brothers-

Cheers!
Nilna Amelia

2 thoughts on “Hari Pahlawan, mengenang Datuk dan Opa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s