My dearest Opa

Dear diary,

Tiba-tiba saja saya ingin menceritakan opa saya. Catet ya, opa bukan oppa dalam Bahasa Korea. Opa adalah ayah dari ayah saya, alias kakek saya. Sepanjang yang saya tahu, Opa adalah figur yang disiplin, murah senyum, dan pencinta palm suiker. Dari opalah saya suka makan roti tawar pakai palm suiker. Almarhum Opa, berpulang ke rahmatullah ketika saya duduk di kelas dua SMP, sekitar tahun 1999.

Almarhum Opa sejak kecil diadopsi oleh saudara Aki (Buyut saya, atau ayahnya Opa) yang cukup berada. Dari merekalah Opa dapat mengenyam pendidikan di sekolah Belanda yang pada saat itu tidak semua masyarakat Indonesia dapat mengenyam pendidikan. Opa disekolahkan hingga tamat STM (sama dengan SMK pada zaman sekarang).

Tamat STM, ternyata Opa lebih suka main bola, dibandingkan bergelut di perteknikan. Hingga suatu saat salah satu teman Opa mengajak Opa untuk merantau ke Plaju (Sumatera Selatan). Akhirnya merantaulah Opa dengan harapan bisa bermain bola dan mengais rezeki dari olahraga itu.

Di Plaju, tepatnya Sungai Gerong, Opa menjadi salah satu pemain di Stanvac. Stanvac inilah cikal bakalnya Pertamina sekarang. Dari sinilah Opa mulai bersosialisasi dengan pekerja Stanvac, dan akhirnya beliau terlibat dalam pembangunan kilang Stanvac. Latar pendidikan Opa dari STM dan juga sekolah Belanda memudahkan Opa untuk membantu pembangunan kilang. Beliau dipercaya menjadi perantara para engineer stanvac yang orang Belanda dengan pekerja stanvac yang orang Indonesia. Opa yang menguasai bahasa Belanda menjadi agen transfer teknologi antara Belanda dan Indonesia. Akhirnya, Opa sendiri pun semakin ahli dalam pembangunan kilang hingga akhirnya beliau direkruit menjadi pegawai Stanvac.

Dari sinilah Opa mulai menetap di Sungai Gerong. Beliau bertemu dengan Oma yang merupakan anak pegawai Stanvac. Oma sering dibawa ke pertemuan dengan pekerja Stanvac oleh ayahnya karena Oma jago berbahasa Belanda. Di pertemuan inilah, konon Oma dan Opa bertemu.

Oma dan Opa pun menikah hingga dikaruniai 10 anak. Anak kelima adalah ayah saya. Ayah saya mengenyam pendidikan di Teknik Kimia Sriwijaya dan bertemu teman sekampusnya yang menjadi mama saya. Mama adalah anak turunan Minangkabau yang ayahnya merupakan TNI dan bekerja di Palembang.

Selain di Sungai Gerong, Opa juga terlibat dalam pembuatan kilang minyak Stanvac di Dumai dan Sungai Pakning yang sekarang semuanya milik Pertamina.

Opa kemudian pensiun dan kembali ke tanah kelahirannya, Bogor. Hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya di Bogor yang ia cintai.

Saat ini, setiap kali saya melewati kilang di Sungai Gerong, atau masuk ke dalam kompleks kilang Dumai, saya selalu teringat Opa. Rasanya rindu saya pada Opa terobati dengan menatap kilang-kilang tersebut. Bagaimanapun Opa juga merupakan pejuang, meskipun ia tidak angkat senjata melawan penjajah, tapi berkat usahanya, kini kilang-kilang tersebut dapat digunakan dan dioperasikan sehingga menghasilkan berliter-liter solar, premium, avtur, dan juga kerosene.

We love you, pa!

Mudah-mudahan kami bisa menjadi penerus bangsa yang memberikan banyak sumbangsih kepada negara ini.

 

Cheers!

Nilna Amelia

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s