Bestfriends!

Dear diary,

Saya bukan tipe orang yang pandai bergaul. Mungkin orang bakalan ngira saya suka pilih-pilih teman. Sebenarnya sih, saya hanya benar-benar membuka diri pada orang-orang yang sudah saya kenal dekat. Kalau baru kenal, yaa…jangan harap saya bisa ngomong panjang lebar, ketawa-ketiwi.

Dari SD saya suka nge-geng. Kayaknya semua anak cewek pasti suka nge-gang. Minimal adalah satu geng. Sebenarnya sih bukan geng ya, lebih cocoknya inner circle kita yang isinya orang-orang yang “sealiran” dengan kita. Biasanya sama temen-temen satu geng inilah saya bisa “jadi diri sendiri”.

Kalo dulu di SD, saya punya geng yang isinya suka main sailor moon, saya jadi sailor venus (eaaa…), nah temen-temen deket saya ada yang jadi sailor moon, sailor mercury, sama sailor jupiter. Geng sailor ini pisah karena kita ngikutin orang tua masing-masing pindah kerja. Kita sempet ketemu lagi setelah 10 tahun lebih pas reuni kecil-kecilan di Jakarta. Sampai sekarang juga masih keep in touch.

Pas SMP dan SMA juga ada. Cuma geng yang SMP skrg sudah ga pernah ketemuan, paling di facebook aja. Soalnya begitu lulus SMP saya pindah ke Bandung, yang lain ada yang tetap di Dumai, ada juga yang pindah ke Jogja. Kalau geng SMA juga masih sering contact-contactan. Biasanya sih lewat BBM. Terakhir ngumpul itu pas di nikahan saya.

Nah, yang paling deket sih sama geng kuliahan. 7 orang cewe yang berkerudung. Kami namain gengnya itu “Gayung” yang kepanjangan dari Geng Tiung. Tiung itu bahasa sunda dari kerudung. 7 orang ini sifatnya beda-beda semua, ada yang kalem, ada yang jaim, ada yang garing, ada yang doyan ketawa, ada yang urakan (ups! tp skrg udah ga lagi), ada yang dewasa tapi kadang juga kekanak-kanakan. Padahal ya, saya bukan tipe yang cocok sama cewe-cewe gaul. Soalnya saya emang anak rumahan sih, yang pulang sekolah/kuliah langsung pulang. Kalau di film-film, tipe anak baik-baik yang cenderung tidak populer. Nah, di Gayung ini saya malah bisa nyambung sama anak-anak gaul (banyak temen, suka organisasi, ga bisa diem pokoknya ada aja yang dikerjain). Saya malah merasa, mereka kayak kakak atau adik cewek saya (saya kan ga punya kakak ato adek cewek sampai abang saya nikah).

Awal mula ada Gayung ini pas kuliah lapangan biosistematik di Pangandaran. Entah gimana pokoknya waktu itu deket aja. Emang pershabatan itu ga perlu basa-basi. Asal cocok satu sama lain, langsung bisa nyambung. Semenjak itu kita suka nginep, makan bareng, belajar bareng, sampai ngerayain ulang tahun dengan PJ yang berbeda-beda. Selalu ada yang menyenangkan setiap harinya πŸ™‚

Sekarang mah, beberapa sudah pada nikah, ada yang lagi hamil, ada yang anaknya udah dua, ada yang sedang mempersiapkan pernikahannya, ada pula yang sedang menikmati masa-masa kuliah S2 di Eropa. Yaah, meskipun sekarang kami sibuk sama keluarga dan kerjaan masing-masing, alhamdulillah rutinitas saling menyapa, curhat-curhatan, sampai update-an terbaru masih jalan terus. Kadang malah kami suka ngumpul-ngumpul pas weekend, sekedar makan siang sambil ngobrol ngolor ngidul. Rutinitas yang biasa kami lakukan pas kuliah.

Kadang-kadang suka mikir, apakah persahabatan ini akan terus sampai nanti kami sudah punya banyak anak, bahkan hingga anak-anak kami sudah dewasa. Mungkin ga sih, kalau anak-anak kami nikah, Gayungers bakal jadi panitianya? Mungkin ga sih kalau kami bisa Umroh bareng seperti mimpi kami dahulu?

Cuma Allah SWT yang tahu. Tapi saya sih yakin, persahabatan ini akan terus ada selama kami menjaganya πŸ™‚

Cheers!

Nilna Amelia

Advertisements

Update duluuu dooongs :D

Dear diary,

Wiiiiih…udah lama ga ngisi blog ini, terbengkalai selama berbulan-bulan. It’s been a while since I left Japan for good. Lots of things happened.

Oh yes, I’m married now πŸ˜€

And I changed my status from single college student to married carrier woman.

My deepest grateful to Allah SWT for this favors. Alhamdulillah.

Udah mau 4 bulan sejak kepulangan saya dari Jepang. Kalo dipikir-pikir lagi, dulu pas saya masih di Jepang, kayaknya impossible banget bisa balik ke Indonesia sambil bawa izajah. But hey! Now I’m here. I finished my two years study and back to my lovely country.

Ada senang dan sedih juga sih ninggalin Jepang. Tapi banyakan senangnya sih :3 Hidup di negara sendiri emang lebih enak daripada di negara orang. Emang bener dah pepatah yang bilang hujan emas di negeri orang masih lebih enakan hujan batu di negeri sendiri.

Dikata macet kek, kotor kek, korupsi kek, apapun itu… Emang yang namanya tanah kelaharin still number one dah πŸ˜€

Disini ada suami, yang tiap bulan dinanti kedatangannya (yes, I still do the LDR…ups now it’s LDM) :p

Ada keluarga yang unyu-unyu…#eaaaa

Ada BFF yang bisa diajak sharing curhat ato sekedar bengong sehat bersama #apa pula inih?

dan tentunya masih ada penelitian2 di kantor…hahaha…emang jodoh gw ama ekstraksi dan kromatografi, ketemu lagi dah ama yang beginian -__-

Well, sekedar update-an singkat dari saya.

I kinda miss Japan.

Hopefully, someday, I will come back to Japan πŸ™‚

Oh ya, meskipun terlambat, saya pengen ngucapin, Selamat menjalakan ibadan puasa Ramadhan 1433 H

Mohon maaf lahir batin πŸ™‚

cheers!

Nilna Amelia

On your wedding day

Dear Hikmah,

Today is your biggest day, I am sorry I can’t be there. It’s been over a year since the last time we met, and now you ‘re gonna go through a new life called marriage. As your friend, I’m really really happy, because you finally made it with the only man you loved.

I still remember, our first year in ITB, all those days when we struggled to pass math, physic, and chemistry.

Also, it’s still fresh on my mind that you stayed beside me when I broke up with my ex-boyfriend. You hugged when I cried loudly in front of physic building on that night.

You were one of my friends who visited me many times when I laid on my bed on hospital and ICU.

You also accompanied me to do my experiments for my theses, although you have your theses defense next week.

Yes, you always stayed by my side on my hard times. I could say that you are the best bestfriend I ever had.

I’m sorry I forgot to tell you about my engagement, and now I will miss your wedding day. I am sorry because I’m such not a good friend of you.

Far away from Bandung, I pray for you, hope your wedding day will be the greatest day of your life, and hope you will have a happily ever after wedding. Since I saw you and Idam get together, somehow I know, both of you canΒ make it. And it’s true.

Happy for you, Meh!

Happy wedding, guys!

Cheers!

Nilna Amelia

Sayonara, Sasa…

Dear diary,

Saat selesai Sholat Isya, hp dengan nomor Indonesia saya berbunyi, lagu NEWS-Best Friend melantun riang. Ah, paling dari Telkomsel atau AXA Mandiri, pikir saya sambil malas meraih hape hitam tersebut.

Klik, wallpaper bergambar donat muncul dan tampilan pesan diterima terbaca, ternyata dari nomor yang tidak dikenal. Siapa lagi nih?

(Masih) dengan malas-malasan saya membuka smsnya, pas ngebuka loading agak lama (maklum, kebanyakan sms), lalu isi sms pun tertera di layar.

Deg!

Saya langsung speechless ketika membacanya, sempat terdiam sampai beberapa menit. Isi pesannya mengabarkan, teman SMA saya, Elisabeth Niken Sasanti atau yang biasa dipanggil Sasa atau Cencen telah tiada.

Almarhumah Sasa adalah teman sekalas saya pas kelas 2. Kita sama-sama di kelas 2-10, kelas paling ujung di lantai tiga, dengan ruangan yang dindingnya berwarna biru dan bergambar bintang-bintang kuning.

Sasa adalah sosok perempuan pintar. Pintar di atas rata-rata. Setelah lulus SMA, Sasa keterima di FKU UI. Meskipun pintar, Sasa tidak pernah merasa dia pintar. Perangainya ceria, sederhana, dan sangat bersahabat. Ga heran Sasa dekat dengan semua teman-teman sekelas, ga yang pendiam, ga yang paling heboh di kelas. Semua senang dengan dia. Bahkan anak laki-laki 2-10 yang biang meriah di sekolah senang mengobrol dengan dia. Mereka juga memberikan nama panggilan Sasa yang baru, Cencen. Cencen sendiri diambil dari nama tokoh wanita di serial Taiwan, Meteor Garden, San Cai. Karena Sasa mirip San Cai, meskipun dengan postur yang lebih subur. Tapi dipelesetin anak-anak jadi Cencen.

Sebenarnya, berita tentang sakitnya Sasa sudah dari minggu lalu saya dengar. Itu pun dari notes teman saya yang ga sengaja saya baca ketika melawat ke profilenya. Dalam notes yang ditulis teman saya, Narumi, Sasa dikabarkan telah dirawat selama 1 bulan di RS Borromeus Bandung, dengan keluhan demam dan sesak yang tak kunjung membaik dengan diagnosis awal SLE (Lupus). Karena keluhannya tidak membaik, akhirnya Sasa diterbangkan ke Singapura masih dalam keadaan sesak dengan efusi pleura (penumpukan cairan di rongga paru), penurunan fungsi hati dan fungsi ginjal.

Hari jumat malam tanggal 5 Maret 2010, Sasa mengalami gagal nafas karena perdarahan paru, saat ini masih dalam perawatan ICU dengan alat bantuan napas (ventilator), menjalani terapi plasma faresis dan cuci darah.

Itulah kabar terakhir dari mengenai Sasa sebelum SMS dukacita tadi saya terima. Teman-teman di Indonesia baik dari SMA 3 maupun FKU UI sedang melakukan penggalangan dana untuk biaya pengobatan Sasa, namun ternyata Sasa sudah lebih dulu meninggalkan kita semua.

Dan saya menyesal tidak sempat berbuat apa-apa. Bahkan saya kehilangan nomor kontak Sasa selepas lulus SMA. Kami tidak pernah kontak-kontakan lagi.

Padahal dulu Sasa sering mengobrol dengan saya. Sasa sering duduk di belakang saya, dengan senyum cerianya dia mengajarkan kepada saya soal-soal Fisika, Kimia, Matematika yang tidak saya mengerti.

Sasa juga senang anime dan manga, makanya saya dan teman sebangku saya, Tasya, nyambung banget kalau mengobrol anime atau manga terbaru jaman itu.

Sasa tidak pernah marah, meskipun anak laki-laki sering menggodanya. Sasa tidak pernah mengeluh tentang apapun. Senyum ceria Sasa selalu terhias di wajahnya yang bulat.

Sekarang Sasa sudah tidak ada. Sasa sudah pergi jauh meninggalkan kita semua.

Sasa, maafkan saya yang tidak sempat memberikan apa-apa untukmu.

Saya berharap semoga dirimu bahagia disana.

Selamat beristirahat, Sasa.

My deep condolences,

Nilna Amelia